Tuesday, November 17, 2009

Kemerdekaan Berbuah Kemelaratan

Kemerdekaan Indonesia telah diperjuangkan oleh para pahlawan sejak ratusan tahun sebelum dicetuskannya proklamasi 17 Agustus 1945. Banyak pengorbanan rakyat dan para pemimpinnya, baik harta maupun nyawa. Pengorbanan begitu besar, yang tidak menyurutkan semangat dan keberanian dalam menghadapi teror serta kekejaman penjajah Belanda, bahkan mengorbankan semangat api perjuangan.

Rakyat memang menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentang penderitaan, kesengsaraan, kemelaratan, dan kenestapaan di bawah cengkeraman penjajah Belanda. Pengalaman pahit di masa lalu, telah mendorong rakyat bersemangat membebaskan diri dari belenggu kehidupan yang penuh kemelaratan dan kenestapaan, kemudian hal ini dijadikan modal oleh para pemimpin bangsa untuk membakar semangat rakyat berjuang dengan harta dan jiwa guna meraih kemerdekaan.

Memasuki awal abad 19 bermunculan tokoh-tokoh sebagai propagandis, yang mengorbankan semangat meraih kemerdekaan. Bahkan, Soekarno dalam berbagai pidatonya selalu menggunakan semboyan politis dan retorika manis, bahwa jembatan emas terbentang di balik kemerdekaan Indonesia. Ilusi dan mimpi rakyat yang tertindas dibangkitkan begitu rupa dengan slogan-slogan yang mempesona, bahwa di dalam Indonesia merdeka, rakyat akan menemukan kehidupan gemah loh jinawi, toto tenterem kertoraharjo, makmur, aman dan sentosa.

Di bawah slogan kemerdekaan, rakyat akar rumput tidak pernah bertanya kritis, dengan cara bagaimana kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyat kelak akan tercapai. Apakah setelah merdeka, masih diperlukan pengorbanan rakyat, ataukah rakyat tinggal berpangku tangan dan menanti mukjizat dari langit sebagaimana di propagandakan para pemimpin pejuang kemerdekaan? Kemudian, kemerdekaan dengan serta merta menghadiahkan kemakmuran, kesentosaan, keamanan dan kedamaian secara instant seperti cerita lampu Aladin, bim salabim.

Kemerdekaan ke- 62 tahun yang kini tengah dirayakan, ternyata hanya menorehkan kepahitan dan kegetiran bagi mayoritas rakyat negeri ini. Kemiskinan semakin membengkak, pengangguran semakin menumpuk, pendidikan untuk rakyat kecil semakin tidak terjangkau dan jurang kekayaan dengan kemiskinan semakin mengaga. Mengapa semua ini terjadi? Siapa yang harus dipersalahkan? Apa langkah yang selama ini diambil, sehingga hanya menyisakan kesengsaraan dan kemelaratan yang lebih parah bagi masyarakat Indonesia. Dan kapan kondisi yang serba pedih, perih dan menyayat hati ini berakhir? Siapa gerangan yang mampu mengakhirinya, dan dengan cara apa semuanya ini dapat diakhiri?

Sudah dapat dipastikan tidak ada satu pihak pun yang mau bertanggung jawab dan mengakui secara gentelmen atas derita dan nestapa rakyat Indonesia yang telah merdeka 62 tahun berkaitan dengan salah urus negeri ini. Yang jelas selama masa 62 tahun, para pemimpin Indonesia dengan semangat berapi–api telah menyingkirkan Islam dan Syari’at-Nya dari gelanggang pengelolaan negara dan masyarakat, serta membusungkan dada dengan pongah menyatakan bahwa doktrin pemisahan agama dari negara adalah obat mujarab yang akan menghantarkan Indonesia kepada kajayaan, kemakmuran dan kesentosaan.

Tanpa malu dan tahu diri justru golongan nasionalis sekuler dan kaum sekuler yang berkedok Islam terus-menerus berbohong kepada rakyat bahwa negara–negara maju berhasil mendapatkan kemakmurannya seperti sekarang memerlukan waktu ratusan tahun, sedangkan kita baru 62 tahun. Maka wajar dalam negara Indonesia merdeka ini, rakyat harus bersabar menjadi manusia melarat. Inilah bukti bahwa kaum sekuler, baik nasionalis maupun yang berkedok Islam telah mencundangi rakyat serta menjual rakyat untuk membangun mental oportunis mereka.

Mengapa hanya rakyat yang diminta bersabar menerima kemelaratan, sementara mereka menikmati fasilitas negara dengan penuh kemewahan dan berlebihan? Disinilah, sebenarnya kunci penyebab dari kemerdekaan Indonesia membuahkan kemelaratan, karena pemimpinya adalah manusia bermoral bejat, bermental serakah dan berjiwa oportunis hanya mengejar kesenangan nafsu. Selama pemimpin Indonesia bermental semacam ini, maka tidak ada harapan mayoritas rakyat dapat dientaskan dari kemelaratanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah ‘Azza wa jalla, “ Dan apabila kami menghendaki untuk membinasakan suatu negeri, maka kami angkat orang–orang yang berlaku boros menjadi penguasa, lalu mereka berbuat durhaka kepada rakyatnya, karena itu mereka berhak mendapat adzab, lalu kami binasakan mereka hingga musnah. “ (Terj. Qs. Al Isra’ 17 : 16)

Maka jalan keluar yang harus menjadi pilihan bagi rakyat Indonesia adalah membersihkan negara dan pemerintah dari kaum oportunis, penjual rakyat, dan penjilat kaki tangan kepentingan asing. Untuk diganti dengan orang–orang yang memiliki jiwa takwa kepada Allah, cinta kepada rakyat, hidup menjauhi kemewahan dan mengajak rakyat untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi. Inilah satu–satunya jalan untuk membebaskan rakyat Indonesia dari ketatnya pakaian, kelaparan, serta himpitan hidup sengsara.

“Sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, pasti kami curahkan pada mereka ramat dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat- ayat kami itu, maka kami siksa mereka akibat perbuatanya. “ (Terj. Qs Al A’raf 7 : 96)

Sebagai upaya konstruktif memperbaiki kepemimpinan Indonesia, agar mendapatkan figur-figur yang bertanggung jawab, baik kepada Allah maupun kepada rakyat, telah tersedia jalan damai bagi rakyat Indonesia. Bahkan, mahkamah konstitusi menetapkan, rakyat boleh memilih pemimpinya dari kalangan independent. Dalam kaitan ini para pemimpin gerakan Islam di Indonesia selayaknya tampil untuk berkiprah mengentaskan rakyat Indonesia dari kemelaratan dan kenestapaan yang telah menggelayuti negeri ini 400 tahun lebih, sejak datangnya penjajah Belanda hingga kini.

No comments:

Post a Comment