Tuesday, November 17, 2009

Definisi Tasawuf

Imam Ghazali berkata: "tasawwuf memiliki dua perantara: istiqomah dengan Allah dan ketenangan bersama manusia, barang siapa istiqomah dengan Allah serta membaguskan akhlak dengan manusia dan bermuamalah penuh kelembutan, dialah sufi, istiqomah dengan Allah berarti menebus kebahagiaan dirinya untuk orang lain, dan berbaik budi pekerti pada manusia berarti tidak membebani manusia dengan keinginan keinginan kita tapi sebaliknya membebani diri sendiri dengan hajat orang lain sejauh tidak menyalahi syari'at".

Habib Abdullah Bin Alawi Alhaddad dalam kitabnya tasbitul fuad mengatakan: "jalannya tasawwuf itu satu (walau terbilang banyak) yaitu: melawan kehendak nafsu dan keluar dari setiap perkara yang mengundang kehendak nafsu, dan ini merupakan perkara yang tidak mudah.


Masih perkataannya beliau: "tasawwuf adalah cara untuk keluar dari akhlak yang jelek dan menuju akhlak yang baik, seorang sufi adalah orang yang bersih hatinya dari segala kotoran, dan penuh dengan ta'bir, cukuplah allah saja baginya, dan baginya sama saja antara emas dan tanah.

Di dalam kitab majmu' dikatakan: "orang yang bersih perbuatan, perkataan, niat dan akhlaknya dari keburukan sifat riya, selamat dari segala sesuatu yang dapat memancing murka Allah, tunduk bathin dan dzohirnya pada ta'at kepada Allah dengan berpaling dari selain Allah, memutuskan perkara yang dapat menyibukkan dirinya dari taat kepada Allah seperti keluarga, harta, syahwat, kelebihan dan hawa nafsu, yang semua itu dibarengi dengan ilmu dan ittiba pada alquran dan alhadits serta petunjuk salafu soleh, inilah yang disebut dengan sufi.


Berkata Sayyid Ali Bin Hasan Al attas: "hakikat tasawwuf ada pada dua perkara, keselamatan hati dan kebaikan budi pekerti, tidaklah awliya mendapatkan anugrah yang mulia dengan banyaknya shalat dan puasa tapi dengan bersihnya hati dan lembutnya budi pekerti.


Berkata Syaikh Al imam As suhrowardi: "tasawwuf permulaannya adalah ilmu, pertengahannya adalah amal dan akhirannya adalah anugrah. Dengan ilmu terbukanya setiap maksud, dengan amal membantu atas usaha untuk mendapatkannya, dengan anugrah mengantar pada tujuan akhir".


Perkataan para Imam dan aarifin: "tasawwuf adalah Ilmu perbuatan, bukan ilmu perkataan, yaitu berhiasnya seseorang dengan keluhuran akhlak yang dicontohkan oleh sunnah Nabi, oleh karena itu dikatakan bahwa orang yang menjalankan tasawwuf adalah orang yang meniti setiap kebaikan akhlak budi pekerti serta meninggalkan keburukan adab dalam pribadi.

Solusi Shalat Khusyu'

بسم الله الرحمن الحيم

Saudaraku... tidaklah ada amalan yang lebih menjadi penentu bagi keselataman dunia dan akhirat kita dari ibadah shalat, maka berbahagialah bagi orang yang disibukkan dalam memperbaiki shalatnya.

Saudaraku... segala perkara yang menjadi keinginan kita bisa diperoleh dengan melakukan sebab-sebab perkara itu, dan mengetahui "sebab" merupakan pintu solusi stiap masalah dalam hidup kita.

Saudaraku... mengetahui "sebab" adalah kunci sukses bagi semua harapan, anda ingin kaya? Ketahuilah sebabnya, anda ingin pintar? Ketahuilah sebabnya. Anda ingin bahagia? Ketahuilah sebabnya.

Begitu juga dengan shalat kita, ketika banyak masalah yang membuat shalat kita tidak khusyu', maka ketahuilah sebabnya, dan putuskannlah sebab2 yang membuat shalat kita tidak sempurna.

Saudaraku... ingatlah selalu bahwa tempat yang Allah lihat dalam diri kita adalah hati, jadi bagaimana badan dan anggauta tubuh kita melakukan ketha'atan beribadah sedangkan hati mengembara jauh dalam alam khayalnya? maka tidak lebih shalat yang kita lakukan dari sekedar olah raga fisik jika beitu.

Saudaraku... mari kita cermati bahwa ada dua sebab yang sering menimpa seseorang dalam shalatnya hingga mengusir kekhusyu'annya, yang pertama adalah sebab dzohiriah seperti, segala yang didengar dan sesuatu yang dilihat, pendengaran dan penglihatan dalam shalat akan membuat fikiran kita bekerja dan disibukan karnanya, dan obat untuk ini adalah dengan menguatkan niat serta mempertinggi himmah (kemauan) menjumpai Tuhan, sehingga pikiran dapat dikuasai oleh niat dan himmah itu.
Yang kedua adalah sebab batiniah, dan ini lebih dahsyat pengaruhnya dalam memalingkan hati dari khusyu', sebab batiniah ini seperti bercabangnya niat pada keinginan dunia, dan cara menyikapinya adalah dengan memaksakan diri untuk fahami dan resapi setiap bacaan di dalam shalat, serta menyibukkannya dengan pekerjaan tersebut hingga hati tidak terpengaruh dengan alam fikirannya.

Saudaraku... pada suatu ketika Rosulullah melihat seseorang yang shalat bermain main dengan jenggotnya, bliau bersabda: "sungguh apabila dia khusyu hatinya maka akan khusyu juga anggauta tubuhnya" karena hukum hati ada pada hukum jawahir (nggauta luar), bagaimana dengan umat zaman ini? Khususnya di makkah (bangsa arab)banyak sekali orang shalat dengan gerakan gerakan yang tidak penting, melihat sms, menyetting hp agar silent (karna kebetulan berdering wktu shalat), merapihkan qutroh (sorban yang dipakai menutupi kepala), merapikan gamis berkali kali, sungguh bukan begitu shalat yang di ajarkan oleh Rosulullah SAW.

Saudaraku... dengan pembahasan ringkas ini semoga kita dapat shalat dengan khusyu amien..Wallahu a'lam bishawab wahuwa almuwafiq ilaa aqwaami toriiq.

Memahami Perbedaan adalah Kunci Kebaikan.

بسم الله الرحمن الرحيم

Saudaraku... perjalanan hidup yang penuh dinamika ini adalah kenyataan yang tetap akan menemani kita dalam beroleh kebaikan dalam segala halnya, dan kebaikan tidak akan pernah bersarang dalam pribadi kita kecuali dengan pengetahuan yang ada, pengetahuan dalam dua sisi baik yang positif atau yang negatif.

Saudaraku... mengetahui perbedaan antara perkataan yang bohong dan perkataan yang benar merupakan kunci untuk anda dapat selalu berkata jujur dan benar.

Mengetahui perbedaan antara kebathilan dan kebenaran dalam keyakinan (i'tiqod) adalah kunci untuk beri'tiqod dengan keyakinan yang benar.

Mengetahui perbedaan antara kejelekan dan kebaikan dalam perbuatan adalah kunci untuk slalu dapat berbuat baik dan santun.

Saudaraku... bukankah telah nyata dalam kehidupan ini pengaruh dari dua sisi perkara yang bertolak belakang itu? dan sungguh hati akan cenderung pada kebaikan yang ada, tapi sering nafsu mengalahkan hati kita.

Saudaraku... semua itu merupakan kekuatan ilmu yang Allah sematkan dalam hati kita, sehingga apabila kekuatan ilmu menjadi kuat dalam hati kita maka akan melahirkan hikmah yang menjadi pokok kebaikan akhlak budi pekerti, sebagaimana firman Allah dalam surat albaqoroh : 269 :
يؤت الحكمة من يشاء ومن يؤت الحكمة فقد اتي خيرا كثيرا وما يذ كر الا اولوا الالباب
"Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang alquran dan as sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar benar telah dianugrahi karunia yang banyak, dan hanya orang orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Saudaraku... sebodoh bodohnya seorang hamba pasti dapat menilai bahwa kebaikan selalu membawa pengaruh pada maslahat sesama, dan kejelekan slalu membawa pribadi pada kehinaan yang membelakangi akhlak, lalu apa yang kalian tunggu dari meraih kebaikan itu? Mari sedikit demi sedikit kita mencoba untuk kembali pada uswah hasanah pribadi Rosulullah SAW dengan pengetahuan yang benar, semoga Allah meridhoi langkah kita dalam perbaikan. Wallahu muwafiq ilaa aqwaami attoriiq.. Wallahu a'lam bishawab.

Hikmah Ilmu yang Disembunyikan

بسم الله الرحمن الرحيم

Sungguh fadlu rabbi (karunia Tuhan) atas seorang hamba sangat luas dan tidak terbatas, betapa sempit akal ini untuk dapat mengkaji dan menampungnya, betapa kotor hati ini untuk menyimpan pemahaman dan hikmah dari rahasia rahasia-Nya, sehingga tak jarang pengingkaran dan fitnah menjadi reflek dari orang awwam terhadap kebesaran dan keagungan Tuhan yang dititipkan kepada hamba hamba kesayangan-Nya.


Saudaraku yang budiman, bukan sifat dan sikap seorang muslim mengatakan sesuatu dengan penuh keleluasaan terhadap objek tanpa ilmu dan adab, bukankah kita tahu setiap ilmu mempunyai tolak ukur kebenarannya? Dan setiap kebenaran ada hakikatnya? Dan setiap hakikat ada perwujudannya? Dan wujud dari hakikat tidak pantas untuk di ungkapkan.
Berkata Imam Ghazali: "tidaklah pantas kalian mendalami hakikatnya ilmu secara detil dengan orang awwam, tapi cukupkanlah pembahasan dengan orang awam terhadap pembelajaran ibadah dan pembelajaran amanah dalam pengamalan dan penuhi hati mereka dengan kecintaan terhadp syorga dan pelarian dari neraka sebagaimana yang dikatakan oleh Al quran "
Rosulullah bersabda:
عن ابي هريرة رضي الله عنه قال: حفظت من رسول الله وعائين من العلم: فاما أحدهما فبثثته واما الاخر فلو بثثته لقطع هذا البلعوم @اخرجه البخاري : ١٢٠@ا
diriwayatkan dari Abu Hurairoh - semoga Allah meridhoinya- berkata: "saya menjaga (melestarikan) dua wadah ilmu dari Rosulullah, adapun salah satu dari keduanya telah aku sebarkan dan yang lain bila aku sebarkan sungguh akan terputuslah tenggorokan ini"


Hikmah yang dapat dipetik dari al haddadiyyah: "hendaklah seorang yang aalim billah pembicaraannya terhadap orang awam mencakup seputar 3 perkara:
1- Mengingatkan atas ni'mat Tuhan
2- Menetapi keta'atan
3- Menjauhi larangan (maksiyat)
Dan setiap orang alim yang keluar pembicaraannya dari 3 perkara di atas kepada manusia awam, maka pantaslah bagi dia untuk menyandang gelar juru fitnah.
ما انت بمحدث قوما حديثا لا تبلغه عقولهم الا كان لبعضهم فتنة @اخرج مسلم :١ :٧٦@ا
(في شرح النووي)
"tidaklah anda berkata kepada orang yang tidak sampai akalnya terhadap pembicaraan anda, kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka"


Saudaraku.. ketika kita mendapati kitab kajian para ahlullah janganlah serta merta mendeskriditkan dengan ucapan kotor dan tuduhan yang menghinakan, seperti telah kita telaah diatas bahwa khitob (objek) dari ucapan itu disesuaikan dengan mukhotobnya (orang yang dikenai objek pembicaraan) sehingga terhindar dari fitnah dan syubhat.


Saudaraku.. Jangan terpancing dengan kekaromatan seorang ulama, sehingga kita sadar diri bahwa ilmu dan akal kita terbatas untuk menyibak hikmah dari agungnya pancaran kebesaran Tuhan, apakah kita merasa sebagai mukhotobah dari setiap ucapan dan kejadian yang Allah tetapkan pada kekasih kekasihNya? sungguh kita bukanlah orang yang mampu memahami rahasia rahasia Tuhan. sebagaimana ibarat yang dijelaskan oleh Abu Hurairoh - semoga Allah meridhoinya- takan menyebarkan pada khalayak ramai tentang rahasia ilmu dari Rosulullah, yang apabila disebarkan maka akan binasalah manusia keseluruhan, dan beliau menyebarkan apa yang menjadi tuntutan syari'at kepada umat, lalu untuk apa Rosulullah memberikan Ilmu kepada Abu Hurairoh yang tidak dapat disebarkannya? Jawabannya adalah karena Abu Hurairoh pantas menjadi khitob dari ilmu Rosulullah itu yang harus slalu dijaga dari orang awam, dan hanya patut untuk orang yang selevel dengan beliau. Wallah muwafiq ilaa aqwami toriq wallahu a'lam bi shawab.

Note:
Tulisan ini dengan berat hati saya postingkan, melihat keadaan umat masa kini yang semakin tak terkendali dari ucapan serta perbuatan dengan kedangkalan ilmu serta ketiadaan adab menyoal hakikat ilmu yang tak patut diwujudkan, semoga kita dapat berbaik sangka pada ualama dan slalu menjadi hamba-Nya yang penuh adab tatakrama. Amien...

Dapatkan Do'a dari Nabi SAW

بسم الله الرحمن الرحيم

Saudaraku... Memohon do'a kepada sesama muslim merupakan perbuatan terpuji, karena ini yang telah di contohkan oleh Rosulullah SAW, sahabat Umar Bin khotob berkata: "aku meminta izin kepada rosulullah untuk Umroh dan beliau mengizinkanku, beliau besabda: jangan lupakan kami dalam do'amu wahai saudaraku.."( HR: Abu Daud Dan Tirmidzi)

saudaraku... betapa do'a telah menjadi ikatan yang kuat dalam pribadi muslim dalam mencari taufiq dan keridhoan Allah, siapa diantara kita yang tidak mau untuk meminta do'a dari sesama maka secara tidak langsung telah bersikap sombong dan angkuh dengan kebodohannya.

Saudaraku... tahukah engkau bahwa kita bisa mendapatkan doa dari Nabi Muhammad SAW setiap sa'at? Jika kepada sesama muslim kita dianjurkan untuk meminta do'a bagaimana kita tidak lakukan kepada Nabi? sabda Nabi: "ketika seseorang mengucapkan salam (shalawat) kepadaku sesudah aku tiada, maka malaikat jibril menyampaikannya kepadaku, berkata Jibril: hai Muhammad inilah salam dari fulan bin fulan, lalu beliau menjawab: Semoga juga keselamatan (rahmat dan berkah dari Allah) terlimpahkan atasnya."

Saudaraku... apa yang masih menghalangimu dari berucap salam dan shalawat kepada Nabi setelah ini adalah kesombongan yang disaksikan Tuhan, bagaimana engkau berharap ridho-Nya sedangkan dirimu berjubahkan sifat yang hanya dikhususkan bagi Tuhan? Semoga kita termasuk hamba Allah yang mendapat taufiq-Nya dalam cinta berucap shalawat dan salam kepada Nabi Junjungan SAW.

Menggapai Surga (Part VI)

بسم الله الرحمن الرحيم

Demi Dzat yang telah menitipkan ilmu ssebagai amanah, tidaklah kita mengkaji suatu hikmah dari sekian banyak mutiara hidup yang penuh fata morgana kecuali sebagai perisai dan tanggung jawab dalam menjalankan ibadah, tidak ada maksud dan tujuan selain dari mencari ridho Tuhan, bukan sebagai perbendaharaan otak dari kealpaan, bukan sebagai penghias kata tanpa amalan, bukan untuk kita pandai bercerita tanpa fakta, bukan pemanis retorika tanpa aplikasi nyata.

Sudaraku semua yang kumuliakan, ketahuilah bahwa tidak akan berobah dari zaman ke zaman kecuali semakin sedikit ulama pewaris misi kenabian, dan bergeraknya zaman dari peraduan selalu goreskan sejarah tentang peradaban umat yang semakin lari dari petunjuk quran dan sunnah Nabi akhir zaman.

Dalam sabdanya Rosulullah menjelaskan, dari riwayat Malik Bin Anas:
ما من عام الا والذي بعده شر منه حتي تلقو ربكم (الترمذي : ٢٢٠٦و البخاري: ٧٠٦٨)
"Tidaklah datang suatu masa kecuali lebih buruk (keadaannya) dibanding masa sebelumnya, sehingga kalian menjumpai Tuhanmu (ajal)"

Berkata Al haafidz Ibnu Hajar Al astqalani di dalam kitab fathul bari: bahwa telah berkata Ibnu Bathal: hadits ini adalah khabar kenabian, yang datang dari Nabi SAW dalam memberitakan terjadinya kerusakan keadaan suatu kaum, dan berita ini adalah perkara ghaib yang tidak didapat dari akal dan pendapat melainkan wahyu dari Allah SWT, maka jelas sudah ketetapan ini adanya, menyibak perubahan dari generasi ke generasi yang semakin jauh dalam keterpurukan.

Adalah qurunnya Rosulullah yang merupakan qurun terbaik dalam sejarah peradaban dunia sesuai sabdanya:
خير القرون قرني
"sebaik baik qurun adalah qurunku"

Aduhai malangnya diri ini jika merasa aman dari murka Tuhan yang disebabkan oleh nafsu yang diperbudak zaman, siapakah kita dibanding para sahabat yang ada dalam qurun kenabian? Tapi akhlaq mereka selalu memberikan tauladan untuk kita selalu bersujud akui kesalahan penuh kerendahan, dan tidak ada sahabat yang merasa aman dari adzab-Nya yang menyakitkan.

Saudaraku... masihkah kita harus bangga dengan apa yang telah kita dapat dari kesuksesan hidup dunia yang sifatnya nisbi? Ataukah puas dengan sederet titel dan pangkat ditengah umat dalam berlomba mencapai kebahagiaan yang tidak haqiqi? Berpacu dan berburu keuntungan pribadi yang tak jarang menggilas hak muslim lainnya karena ada unsur hasud dan dengki?

Saudaraku... mari kita simak nasehat hikmah yang keluar dari lisannya ulama penuh berkah, dia adalah Abu Ubaidah yang hidup setelah qurun shahabah:
"sesungguhnya dunia itu bergerak meninggalkan kita, sedang akhirat bergerak sebagai masa depan kita, dan masing masing dari keduanya memiliki pecinta, maka jadilah anda pecinta akhirat dan jangan menjadi pecinta dunia, sungguh masa sekarang (dunia)adalah waktu untuk beramal tanpa balasan dan esok (akhirat) adalah waktu balasan tanpa amal"

Saudaraku... bukankah kecenderungan manusia selalu melihat perkara yang instan? Dan perkara instan tentu sifatnya sementara, maka bila hamba bersifat dengan sifat dunia maka dia telah mencintainya, Rosulullah bersabda:
ألا ان الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الا ذكر الله وما والاه وعالم او متعلم (الترمذي: ٢٣٢٢)ا
"sungguh dunia itu di benci oleh Allah dan apa apa yang ada di dalamnya kecuali dzikrullah dan perkara kebajikan serta taqarrub kepada-Nya, dan orang yang berilmu dan yang mempelajari ilmu"

Saudaraku... mari kita cermati hadits di atas, bahwa pengertian dilaknat dan dibenci adalah karena dunia serta perhiasannya selalu membawa manusia pada kecenderungan mencintainya, yang pada gilirannya sang pecinta akan melupakan Dzat yang menciptakannya, sehingga orang orang yang berpaling dari kecintaan dunia dialah hamba yang akan menggunakan waktunya demi berbekal untuk kampung akhirat dengan penuh kenikmatan bukan menyia nyiakannya dengan perkara yang tidak bermanfa'at atau bahkan perkara yang menjauhkannya dari Allah SWT, dan semua ini hanya terlahir dari orang yang berilmu atau mempelajari ilmu.

Saudaraku... apa yang masih kita tunggu? Mari bergegas untuk selalu perbaiki tingkah laku, bukankah kita merindukan kampung kenikmatan yang telah menunggu, apakah kita belum bisa melawan sifat arogan yang selalu berkata "aku adalah aku"? yakinilah bahwa usia akan berkesudahan dan semua itu akan dimintai pertanggung jawaban, sebagai neraca keadilan Tuhan untuk putuskan siapa yang akan menerima adzab-Nya atu beroleh kenikmatan...

Menggapai Surga (Part V)

بسم الله الرحمن الرحيم

Untaian kata dalam bait bait awal surat Al mu'minuun telah kita uraikan, betapa kita mendapati khusyu dalam shalat menjadi awal keutamaan dalam merakit hari untuk sebuah tujuan, yaitu kenikmatan syorga firdaus yang berkekalan.

Sekarang kita beranjak ke point yang kedua sesuai penjabaran di dalam syarat memperoleh keberuntungan, yaitu:
2. Meninggalkan perbuatan yang tidak berguna, sesuai firman-Nya:
والذين هم عن اللغوي معرضون
"Dan orang orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna"

Diriwayatkan oleh Abu Hurairoh:
من حسن اسلام المرء تركه مالا يعنيه
(الترمذي :٢٣١٧)
"merupakan kesempurnaan islamnya seseorang adalah meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat"


Ibnu Rajab memaknai ما لا يعنيه dengan perkara baik itu ucapan atau perbuatan yang tidak penting (semua perbuatan haram, syubhat, makruh dan amalan amalan mubah yang tidak ada hajat kita atasnya).

Imam Ghazali dalam menjelaskan hadits ini dengan bahasanya: berbicaralah seperlunya, cukupkanlah pembicaraanmu atas hal hal yang bila engkau tinggalkan tidak menyebabkan dosa serta tidak membahayakan, misalnya duduk berkumpul dengan orang orang hanya untuk bercerita tentang pengalaman perjalananmu dan sederet pengalaman yang menakjubkan, dan perkara perkara ini apabila tidak kau ceritakan maka tidak akan membahayakan atau membuatmu berdosa, tapi bila engkau ceritakan semua itu penuh kesungguhan, tidak lebih dan tidak kurang, tidak berbangga diri dengan pengalaman yang luar biasa, tidak ghibah dan dalam bercerita, tidak mencaci manusia, maka anda tetap saja telah menyia nyiakan waktu dalam usia karna disibuk kan dengan pekerjaan lisanmu yang seharusnya engkau tidak menggantikan perbuatan yang berguna dengan perbuatan yang sia sia, karena jika engkau pergunakan waktu bercerita dengan dzikir dan tafakkur niscaya akan menjadi sebab terbukanya tiupan rahmat bagimu, dan dengan tasbih maka menjadi sebab terbangunnya istana syorga bagimu.

Saudaraku... betapa banyak perkara mubah yang telah sering menipu kita, memalingkan kita dari sebab memperoleh keberuntungan yang agung, bahkan sering tidak kita sadari telah terjebak dalam ghibah dan fitnah akibat perkara perkara dunia yang menyilaukan mata.

Allah berfirman di dalam surat annazi'at ayat 37-39:
فأما من طغي وءاثرالحيوة الدنيا فان الجحيم هي المأوي
"Adapun orang yang melampui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya)" maka dimanakah kita dari ayat Allah ini? Bukankah dunia adalah permainan dan tempat senda gurau belaka yang terlalu kita cintai? Allah berfirman :
وماهذه الحياة الدنيا الا لهو ولب و ان الدارالاخرة لهي الحيوان لو كانو يعلمون
(العنكبوت : ٦٤)
"dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main main, dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui"

Saudaraku... sadar atau tidak kita telah terpedaya oleh dunia dan perhiasaannya, sehingga kenikmatan di dalamnya senantiasa membuat kita lupa bahwa kita adalah seorang hamba, pantaskah kita disibukkan dengan janji yang telah Allah siapkan? Dan pantaskah kita lari dari perintah Tuhan yang memiliki janji dalam ketetapan? Sungguh bagi orang yang berakal tidaklah akan mengutamakan sebuah janji namun lari dari Sang Pemilik janji...

Menggapai Surga (Part IV)

بسم الله الرحمن الرحيم

Kemenangan, keberuntungan dan kejayaan merupakan dambaan setiap insan, dengannya manusia akan mencapai martabat yang penuh kemuliayaan, tiada satupun dari kita yang tidak menghendakinya, dan sebaik baik kemenangan itu adalah istiqomah dalam menjalankan shalat berjama'ah, karna dengan shalat manusia dapat merubah kejelekan tabi'at, dengan shalat manusia dapat jalani ujian demi ujian tanpa mudhorot, dengan shalat manusia mampu berbagi ni'mat pada sahabat dan kerabat, sebagaimana firman Allah di dalam surat al ma'aarij ayat 19 - 23 :
ان الانسن خلق هلوعا . اذا مسه الشر جزوعا. واذا مسه الخير منوعا. الا المصلين. الذين هم علي صلاتهم دائمون
"sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya"

Saudaraku... tidaklah orang yang suka berkeluh kesah terhadap taqdir ketetapan Allah kecuali karna hilangnya adab kepada Sang Kholiq, dan tidaklah orang akan kikir terhadapan kebaikan (ilmu, rizqi harta dan kejembaran) kecuali orang yang telah menanggalkan adab dan akhlaq, lantas darimana hilangnya nilai nilai moral itu? jawabnya ada pada shalat kita yang tidak bermutu.

Saudaraku... betapa adab selalu menjadi fokus utama para pengkaji agama, para imam dan muhadditsin tidaklah pernah mendambakan ilmu yang bertambah dengan hilangnya adab dan tata krama.

Berkata Al imam Al haafidz Al mujaahid Al qudwah Syaikhul Islam Abu Abdurrohman Abdullah Bin Mubarok yang terkenal dengan sebutan Ibnul Arabi :
"kami lebih berhajat pada adab budi pekerti walau sedikit dan kecil volumenya dibanding ilmu yang banyak tanpa arti"
Alangkah bijaknya sikap para salafus sholeh yang senantiasa menjunjung tinggi nilai nilai moral budi pekerti.
Dan beliau, semoga Allah meridhoinya berkata lagi: "Barang siapa yang meremehkan adab maka akan di haramkan (dijauhkan: pent) dari mengerjakan amalan amalan sunnah, dan barang siapa yang menyepelekan sunnah maka akan diharamkan dari mengerjakan amalan amalan wajib, dan sesiapa yang memandang rendah perkara wajib dalam ibadah maka dia akan diharamkan dari ilmu ma'rifat"

Saudaraku... kebaikan apa lagi yang dapat diperoleh seorang hamba yang telah dijauhkan dari ilmu ma'rifat (mengenal Allah)? Kebajikan model apa yang akan terlahir dari butanya hamba pada sifat dan asmaNya di dalam haqiqat? Sungguh saya katakan: "tidaklah seseorang akan dapat meniti hidup dalam tatanan syari'at apabila telah menyepelekan haqiqat, dan tidak akan sampai pada haqiqat tanpa melalui toriqoh (jalan) ma'rifat, dan kesemua itu tidak akan dicapai seseorang yang telah menyepelekan kewajiban dan kesunahan dalam beribadat, dan sebab terbesarnya diawali dari hilangnya adab dalam harkat dan martabat.

Imam syafi'i rahimahullah berkata: berkata Imam Malik rahimahullah: "ya muhammad! (sebutan untuk umumnya orang di jazirah arab: pent) jadikan Ilmu anda sebagai garam dan adabmu sebagai tepungnya"

Berkata Abdurrohman Bin qosim (beliau adalah ulama besar dari mesir yang pernah mengabdikan diri pada Imam Malik): "saya menjadi pelayan bagi Imam Malik selama 20 tahun, dan dalam 20 tahun itu hanya 2 tahun saja mendapatkan pendidikan ilmiah darinya, sisanya yang 18 tahun beliau ajari saya tentang adab tatakrama, alangkah baiknya jika aku jadikan semua waktuku bersamanya adalah untuk mengkaji adab"

Itulah sifat dan sikap salafus sholeh dalam meraih kemenangan, dan shalat merupakan tumpuan mereka dalam sebab memperoleh keberuntungan, kepada mereka kita mencontoh adab berprilaku, kepada Rosulullah kita mengukur kebenaran dengan hadits yang baku, kepada Allah kita berharap kebaikan dalam bertingkah laku.

Menggapai Surga (Part III)

بسم الله الرحمن الرحيم

Pembahasan shalat merupakan bab yang tidak akan pernah berujung, kajian yang tidak menemuai batas ahir, tela'ah yang tidak akan mampu di ukur kedalamannya hingga takan tersisa halaman untuk mencatat lautan hikmah, dan tentu akan keringlah tinta dalam mengukir nikmat dan keindahan di dalamnya.

Sungguh Allah telah memuliakan penciptaan manusia dengan ikatan ibadah yang harus ditunaikan, yaitu kewajiban kewajiban yang meliputi aspek kehidupan sebagai bukti ketundukan manusia dalam penghambaan.

Allah berfirman di dalam surat ad dzariyat ayat 56 :
وما خلقت الجن والا نس الا ليعبدون
"Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahku".

Ubudiyah (menjalankan perintah Tuhan) dari sekian banyak ibadah faridhoh (wajib: pent) yang paling dominan dalam kehidupan 24 jam adalah shalat, lantas sudahkah shalat mampu menuntun kita untuk selalu menjaga perintah syari'at? Sudahkah shalat kita melahirkan sikap berserah diri menerima semua taqdir baik dan buruknya yang datang dari Allah setiap saat? Sudahkah shalat kita melahirkan sikap ikhlas menanggalkan kepentingan pribadi demi berharap keridhoan Ilahi rabbi?

Saudaraku... Imam Ghazali (Muhammad Bin Muhammad Al ghazali) ketika ditanya tentang ubudiyyah beliau menjawab: "ubudiyyah itu terbagi menjadi 3 bagian :

١- المحافظة علي امر الشرع
1). Menjaga perintah agama.
Jika point ini sudah lahir dari ibadah shalat kita, maka secara reflek juga kita akan meninggalkan hal hal yang bertentangan dengan agama (syari'at). Perlu difahami bahwa arti syari'at adalah aturan aturan yang datang dari shohibu syar'i haqiqi yaitu Allah, dan shohibu syar'i majazi yaitu Rosulullah, dan atsar ashabi yaitu khulafaurrosyidin, dengan dalil dalil yang datang dari nash al quran dan hadits Nabi, namun melihat kedalaman dan luasnya pembahasan syar'i di dalam kedua sumber itu maka tidaklah kita dapati ummat dalam qurun (abad) ini atau beberapa abad sebelumnya yang mampu merumuskan aturan aturan Allah dan Rosul-Nya secara langsung beristimbat (mengambil intisari hukum) dari keduanya, maka ini menunjukan sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mengikuti disiplin ilmu dalam mengkaji hukum syar'i dari ijtihadnya para Imam Madzhab, sehingga jelas darimana hirarki ilmu (sanad keilmuan) sampai kepada kita.

Seorang imam qurun tabi'in yang terkenal, Abu Bakar Muhammad Bin Sirrin Al anshori Al bashri mengatakan dalam bab ilmu: "Ilmu adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa anda mengambil agama itu" ini merupakan anjuran bagi kita agar dapat mengenal lebih dekat lagi kepada sumber penyampai ilmu (rawi)tersebut, itulah sebabnya mengapa sanad keilmuan itu penting bagi kita sebagai pembuktian keilmuan yang mempunyai jalur yang jelas sampai kepada sumbernya yaitu alquran dan sunnah Nabi Muhammad SAW, dari sini kita bisa bedakan mana ibadah yang menetapi syari'at dan mana yang keluar dari syari'at.


٢- الرضي بالقضاء والقدر وقسمة الله تعالي
2). Ridho terhadap ketentuan dan taqdir serta pembagian karunia-Nya.
Adapun point yang kedua ini, bila telah lahir dari shalat kita keridhoan pada apa yang menjadi ketentuan-Nya, maka secara reflek juga akan lenyap dan hilang sifat emosi, sikap hasud serta fitnah dan ghibah yang kerap muncul karena sifat tidak ridho atas kebahagiaan dan karunia rizqi yang diterima orang lain dari Allah SWT.


٣- ترك رضاء نفسك في طلب رضاء الله
3). Menyampingkan kepentingan pribadimu demi mencari ridho Allah.
Point yang ketiga ini adalah sebagai puncak penghambaan kita kepada Allah, pada maqom ini semua ibadah telah menjadi indah, dalam maqom ini sudah tidak penting lagi kemiskinan atau kekayaan, kenikmatan dunia atau kepahitannya, dalam maqom ini bukan lagi syorga yang menjadi motivator ibadah kita, bukan lagi pahala yang menjadi tuntutan, dan juga bukan karena takut neraka kita menegakkan syari'at Tuhan, tapi Allah dengan haibah (keagungan) dan seluruh kesempurnaan sifat dalam asma-Nya yang menggerakan kita untuk selalu mengejar dan mencari ridho dari Tuhan.

Saudaraku... adakah kalian melihat orang yang dengan shalatnya telah beroleh anugrah indah ini melakukan perbuatan yang kosong dari manfaat? Atau mengumbar ayat dari alquran untuk kepentingan pribadi dan mengelabui ummat? Atau melahirkan kesombongan dan kecongkakkan dalam mengabaikan perintah syari'at? Dan mungkinkah kan terlahir ucapan kotor, kasar yang menyakitkan saudara sesama muslim yang telah bersyahadat? Atau membuat muslim lainnya terganggu dengan perbuatan kita sehingga tidak merasa aman dan nyaman dalam beribadat? Sungguh jawaban untuk semua pertanyaan diatas adalah tidak dan tidak akan terjadi pada pribadi muslim yang telah menempati tiga point di atas dengan tepat, bagaimana hal itu bisa terjadi sedang hati mereka dipenuhi fadlu robbi (karunia Ilahi) dan bagaimana mungkin perbuatan yang negatif itu keluar dari pribadi yang selalu merasa diawasi oleh Dzat Yang Maha Tinggi? Haihata haihata sungguh mustahil di dalam diri manusia terdapat dua hati, tidaklah keimanan bercampur dengan kekufuran, juga tidak akan mungkin keikhlasan bercampur dengan hasud serta kedengkian, dan takan lahir kesombongan dalam ketawadhu'an.


Akhirnya mari kita berserah diri dan gantungkan segala hajat pada Tuhan Pencipta alam, dengan memohon hidayah dan taufiq-Nya dalam menuju perbaikan, agar kelak kita jaya di hari tiada pertolongan serta naungan, menuju kenikmatan dalam alam kebahagiaan yang berkekalan.

Menggapai Surga (Part II)

بسم الله الرحمن الحيم
Menjaga hak Allah dengan benar dan khusyu di dalam shalat lima waktu bukanlah hal mudah yang lantas disepelekan, dimulai dari mengagungkan saat adzan menggema, itulah tandanya waktu amanah telah tiba, basuhan demi basuhan pada anggauta wudlu yang tiada sepi dari isyarat dan makna, hingga tiba waktunya kita memutuskan diri dengan perkara duaniawi, yang sering menipu dan menggelapkan mata hati, hayati dan nikmati stiap dzikir, doa dan lantunan ayat ayat suci, gantungkan segala asa dalam damba hanya pada Robbul Izzati.
Saudaraku... Ketika shalat kita sudah benar benar khusyu, janganlah lalu kita puas dan berhenti untuk koreksi diri, apakah target dari ibadah itu telah menjadi perhiasan indah yang melengkapi setiap langkah dan tutur kata? Allah berfirman
و اقم الصلوة ان الصلوة تنهي عن الفخشاء و المنكر
"...Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar"(al angkabut ayat 45)
Subhanallah maha suci Allah yang telah menjadikan shalat sebagai madrasah bagi hamba untuk mengkaji nilai nilai moral dalam melakukan aktifitas keseharian, jika ternyata tidak lahir nilai nilai moral itu dalam tutur kata, pandangan, pendengaran dan gerak hati kita, maka perlu dikoreksi kembali qualitas dari madrasah shalat yang kita lakukan.
Ibnu Abbas Radiyallahu anhu berkata: "sesungguhnya kebaikan itu memiliki cahaya yang terpancar dari wajah, dan sinaran di dalam hati, melahirkan kekuatan jasmani, menjembarkan rizqi dan melahirkan kecintaan di dalam hati semua insan, sebaliknya kejahatan menjadikan muramnya wajah, kalutnya hati, lemahnya jasmani, sempitnya rizqi serta melahirkan kebencian pada setiap hati. Coba periksa dengan setandar diatas, adakah kita termasuk orang yang telah beruntung dengan nilai nilai positif atau justru keunggulan ada pada nilai nilai yang negatif, kita berlindung kepada Allah dari hilangnya atsar ibadah yang produktif.
Allah berfirman:
"من عمل صالحا من ذكر او انثي و هو مؤمن فلنحيينه حيوة طيب ولنجزينهم با حسن ما كانو ا يعملون" (النحل : ٩٧)ا
"Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" dan Firman-Nya lagi:
"ان الذين امنو ا وعملوا الصلحت سيجعل لهم الرحمن ودا " (مريم: ٩٦)ا
"Sesungguhnya orang orang yang beriman dan beramal sholeh kelak Allah yang maha pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang"
Dari kedua ayat di atas menyebutkan "amal sholeh" dan adakah amalan yang lebih baik dari pada shalat? Maka ketika orang yang beriman dan melakukan kebajikan saja sudah mendapatkan jaminan dan karunia yang indah berupa "hayatan thayyiba" kehidupan yang baik dan "wuddhan" rasa kasih sayang, lantas bagaimana dengan ibadah shalat kita yang mempunyai manzilah tertinggi dalam ibadah amaliah? Tentu lebih berhak untuk mendapatkan karunia yang besar itu.
Said Bin Zubair mendevinisikan kehidupan yang baik dengan rizqi yang halal, dan Al hasan mengartikannya dengan qona'ah, adapun menurut Mujahid dan Qathadah adalah syorga, karena ia adalah kehidupan tanpa kematian, kekayaan tanpa kefaqiran, kesehatan tanpa penderitaan, kerajaan tanpa kehancuran dan kebahagiaan tanpa kesusahan.
Jika demikian halnya, benarkah sholat kita sudah sampai pada qualitas yang membuahkan indahnya karunia itu? Adakah kehidupan yang baik telah kita dapatkan? Adakah rasa kasih sayang pada semua hamba-Nya telah tertanam di hati kita? Jika jawabannya tidak atau belum maka bersegeralah untuk perbaiki shalat agar semua target yang Allah janjikan tidak luput dari kehidupan kita.
Saudaraku... Kebaikan, keta'atan, dan khusyuknya kita dalam penghambaan tidaklah pernah lepas dari taufiq Allah, dengan demikian baik dan tidaknya shalat kita kembali kepada usaha hamba melakukan pendekatan pada Allah Azza wajalla.
Di riwayatkan oleh Abu hurairoh, semoga Allah meridhoinya: Rosulullah bersabda, sesungguhnya Allah berfirman: "Tidaklah seorang hamba melakukan taqorrub (mendekatkan diri) padaku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari perkara yang telah aku wajibkan kepadanya, dan hambaKu terus mendekatkan diri padaKu dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya, jika Aku telah mencintainya Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku adalah pandangannya yang ia gunakan untuk melihat, Aku adalah tangannya yang ia gunakan untuk memukul, Aku adalah kakinya yang ia gunakan untuk berjalan, dan jika ia meminta kepadaku sungguh akan Aku kabulkan Doanya, dan jika memohon perlindunganKu maka akn Aku lindungi dia.(Shohih Buhori : 6502) inilah derajat tertinggi yang bisa didapatkan seorang hamba dalam bersungguh sungguh memperbaiki ibadah shalatnya, hingga semua gerak kita bersumber dari qudrat (kekuatan-Nya) dan irodahnya (kehendak-Nya), inilah derajat para hamba yang dicintai-Nya, tidaklah terbesit di hati mereka hukum wajib atau sunnah, semuanya telah menjadi indah dalam kenikmatan mendekatkan diri pada Kekasih Pujaan, kerinduannya selalu mengajak ruang dan waktu untuk bersimpuh penuh ta'dzim kepada-Nya, tiada kekuatan yang akan mampu menggantikan kenikmatan itu, tiada sedih, tiada risau, tiada berkeluh kesah karena hatinya sudah dipenuhi oleh cinta dari Dzat Yang Maha Kuasa.

Menggapai Surga (Part I)

بسم الله الرحمن الحيم
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, yang hanya kepadanya kita menghambakan diri dalam beramal, tiada kesempurnaan yang dapat kita miliki dalam beribadah kecuali dengan Taufiq-Nya, Dzat Dzu Taufiiqi wal kamaal.
Saudaraku... Demi cinta kita kepada Allah dan Rosul-Nya, marilah kita saling berwasiat, terhadap kebaikan dan menetapi kesabaran, tiada lain usaha ini adalah untuk menggapai apa yang menjadi puncak harapan setiap insan.


Allah berfirman di dalam surah al mu'minun ayat 1 : قد افلح المؤمنون "sesungguhnya beruntunglah orang orang yang beriman", Allah mengabarkan berita keberuntungan bagi orang orang mu'min dengan memakai huruf "قد" ini mengandung pengertian litahqiq (penguat) khabar tersebut, dan pada ayat selanjutnya Allah menjabarkan siapa orang orang mu'min itu? Yaitu :

1. Orang yang khusyuk dalam sholatnya.
Khusyuk dalam sholat merupakan hal yang menentukan derajat ma'rifatnya seseorang kepada Tuhannya, lalu bagaimana kita dapat khusyu jika kita tidak mengenal Allah dalam hak dan kewajiban? Bagaimana kita dapat khusyu jika kita tidak faham akan ibadah yang kita lakukan?


Saudaraku... Bahwa telah diriwayatkan dari ibnu mas'ud rodhiyallahu 'anhu berkata : "saya bertanya pada Rosulullah, amalan apa yang terbaik? berkata Rosulullah: shalat tepat pada waktunya. Kemudian berkata lagi ibnu mas'ud: lalu apa lagi? Berkata Rosulullah: berbakti pada kedua orang tua. Kemudian berkata lagi ia: lalu apa lagi? Rosulullah menjawab: berjihad di jalan Allah."


Sungguh shalat menempati urutan pertama dari kebaikan yang dijelaskan oleh sabda Rosulullah, berkata Imam Nawawi rahimahullah di dalam syarah kitab al muhadzab : "madzhab (pendapat) yang benar dan masyhur bahwa sholat adalah ibadah yang paling baik dibanding puasa dan seluruh ibadah dzohir (ibadah amaliah)"
Dan riwayatnya lagi "bahwa ada seorang pemuda yang mendatangi Rosulullah lalu dia menceritakan bahwa dia telah mencium seorang wanita, maka turunlah wahyu surat hud ayat 114 :
واقم الصلا ة طرفي النهار و زلفا من الليل
ان الحسنات يذهبن السيئات
"dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari pada malam, sesungguhnya perbuatan perbuatan yang baik itu menghapus dosa." lalu pemuda itu berkata: apakah ayat ini turun untuk saya ya Rosulallah? Beliau menjawab: untuk semua ummatku.


Jumhur ulama beristidlal bahwa kebaikan itu terkumpul dalam shalat, dari ibadah bersesuci (wudhu), membaca al quran, berdzikir dan berdoa. Dan juga karena konsekwen dari ibadah ini bagi yang meninggalkannya maka harus diperangi, ini menunjukan keutamaan shalat dalam tatanan ibadah.


Masih banyak lagi hadits hadits yang berkaitan dengan bab sholat, saya mencukupkan sampai disini saja untuk meringkas pembahasan.


Lalau Syarat yang Allah gariskan dalam keberuntungan orang yang sholat adalah yang menjaga kekhusyu'annya, khusyu dimaknai tawadhu' dalam tafsir jalalain, khusyu dalam sholat berarti orang yang menjalankan sholat tidak lepas dari syarat iman dan ihsan, dengan penuh keyakinan, dan selalu muroqobah (merasa diperhatikan Allah) syarat adab dan keluhuran budi pekerti, mengetahui dengan yakin tidak ada makom (derajat) melebihi kemuliaan dan kehormatan seorang hamba dalam penghambaanya pada Allah selain diwaktu sholat, hingga lahir khusyu karna Allah ta'ala.


Diriwayatkan oleh Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi sollallahu alaihi wa sallam "tiada suatu yang lebih dicintai oleh Allah dari dua tetesan (linangan) dan dua tanda (jejak), yaitu tetesan airmata karena khusyu (takut) kepada Allah dan tetesan darah yang mengalir di dalam jihad di jalan Allah, dan tanda jihad di jalan Allah dan tanda dalam melakukan kewajiban dari Allah" hadits ini di takhrij oleh Imam tirmidzi dikitab jami' tirmidzi halaman 1669.


sungguh beruntunglah orang orang yang dapat khusyu dengan linangan airmata dalam menunaikan dan menjaga shalatnya, hingga terasa shalat itu merupakan kebutuhan dan kenikmatan.


Rosulullah bersabda "pada hari kiamat tiba semua mata akan menangis kecuali mata yang terpelihara dari apa apa yang di haramkan Allah, dan mata yang tidak tidur di jalan Allah, dan mata yang menangis karena khusyu (takut) kepada Allah" ditakhrij oleh Abu Na'im di dalam kitab hilyah Juz 3 hal 163. Riwayat Abu Hurairoh.


Dan sabdanya lagi " tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut pada Allah, dan tidak akan masuk syorga orang yang selalu bermaksiat" hadits ini dikeluarkan oleh baihaqi di dalam kitab asyuab juz 2 hal 233 termasuk hadits abi hurairoh. berkata rosulullah SAW "air mata pelaku maksiat yang tobat akan memadamkan murka Tuhan".


Saudaraku... Betapa sudah terlalu jauh kita dari sikap dan sifat seorang mu'min yang beroleh keberuntungan dari Allah, betapa sering kita tertinggal takbirotul ihrom dalam berjamaah, bahkan sering kita tidak mengindahkan shalat berjamaah, yang keutamaannya berlipat 27 kelipatan dibanding shalat sendirian, betapa sering kita terlena dengan khayal dan tuulul amal (berandai andai) untuk dapat menggapai derajat tinggi sebagai hamba yang dicintai Tuhan.


Berkata Al Imam Al waliy Al qudwah al haafidz Al muhaddits Al tsiqoh Syaikh penduduk syam Abu Al hasan Ahmad Bin Abi Al hiwari Al dimasyqi (164 - 246 H.) "Sebaik baik tangis adalah tangisan seorang hamba atas berlalunya waktu tanpa faidah (manfaat)".

Beruntung atau Malang?

Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak seberapa. Pada suatu hari, kuda pak tani satu-satu nya tersebut menghilang, lari begitu saja dari kandang menuju hutan.Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu berkata: “Wahai Pak Tani, sungguh malang nasibmu!”.

Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …” Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya, dengan membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang tidak seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah perkasa. Orang2 dari kampung berbondong datang dan segera mengerumuni “koleksi” kuda-kuda yang berharga mahal tersebut dengan kagum. Pedagang-pedagang kuda segera menawar kuda-kuda tersebut dengan harga tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun menerima uang dalam jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar untuk berkebun membantu kuda tua nya.

Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: “Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!”. Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …” Keesokan hari nya, anak pak Tani pun dengan penuh semangat berusaha menjinakan kuda baru nya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat, sehingga pemuda itu jatuh dan patah kaki nya.

Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: “Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!”. Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …” Pemuda itupun terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah kaki nya. Perlu waktu lama hingga tulang nya yang patah akan baik kembali. Keesokan hari nya, datanglah Panglima Perang Raja ke desa itu. Dan memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan raja untuk bertempur melawan musuh di tempat yang jauh. Seluruh pemuda pun wajib bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak Tani pun tidak harus berperang karena dia cacat.

Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putra-putra nya bertempur, dan berkata: “Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!”. Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …”

Kisah di atas, mengungkapkan suatu sikap yang sering disebut: non-judgement. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang diskenariokan Sang Maha Sutradara. Apa2 yang kita sebut hari ini sebagai “kesialan”, barangkali di masa depan baru ketahuan adalah jalan menuju “keberuntungan” . Maka orang-orang seperti Pak Tani di atas, berhenti untuk “menghakimi” kejadian dengan label-label “beruntung”, “sial”, dan sebagainya.

Karena, siapalah kita ini menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Seorang karyawan yang dipecat perusahaan nya, bisa jadi bukan suatu “kesialan”, manakala ternyata status job-less nya telah memecut dan membuka jalan bagi diri nya untuk menjadi boss besar di perusahaan lain.

Maka berhentilah menghakimi apa –apa yang terjadi hari ini, kejadian –kejadian PHK , Paket Hengkang , Mutasi tugas dan apapun namanya . . . .yang selama ini kita sebut dengan “kesialan” , “musibah ” dll , karena .. sungguh kita tidak tahu apa yang terjadi kemudian dibalik peristiwa itu.

“Hadapi badai kehidupan sebesar apapun. Tuhan takkan lupa akan kemampuan kita. Kapal hebat diciptakan bukan untuk dilabuhkan di dermaga saja.”

Hal semacam ini juga sering terjadi pada diri kita jika kita mau memperhatikannya. Pertanyaannya, Apakah Anda sekarang mengalami Keberuntungan Atau Kemalangan ?

Tapi ada pelajaran dalam Al Quran siapa yg beruntung itu:

"sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" (91:9-10)
dan Kesabaran pasti berbuah manis...

Dakwah Rasulullah Ketika Dalam Perjalanan

Imam Ahmad telah memberitakan dari putera Sa'ad, sedang ayah Sa'ad sendiri yang menunjukkan jalan ke Rakubah (perjalanan di antara Makkah dengan Madinah). Berkata putera Sa'ad, bahwa ayahku telah menceritakan kepadaku, bahwa Rasulullah SAW bersama-sama dengan Abu Bakar ra. telah singgah di kampungku. Sebenarnya Abu Bakar ra. ingin melihat puterinya yang kecil sedang disusukan di kampung kami dan Rasulullah SAW pula inginkan jalan pendek ke Madinah. Berkata Sa'ad kepada Rasulullah SAW: "jalan melalui Rakubah ini ada dua orang perompak dari suku Aslam, dikenal orang dengan panggilan Dua yang terhina!, jika engkau ingin melalui jalan ini, kami akan menunjukkannya". Rasulullah SAW menjawab: "Tidak mengapa, tunjukkanlah jalannya kepada kami!". Berkata Sa'ad seterusnya: "Kami pun berjalan melalui Rakubah itu, dan apabila kami dilihat oleh dua orang perompak itu, salah seorang mereka berkata kepada temannya: "Ini orang dari Yaman, barangkali!". Apabila kita bertemu dua orang perompak itu, Rasulullah SAW pun menyeru mereka supaya masuk Islam, dijelaskannyalah kepada keduanya tentang agama yang diajarkannya. Akhirnya mereka berdua setuju dan memeluk Islam. "Siapa nama kamu berdua?" tanya Rasuluilah SAW "Nama kami?". Mereka tersenyum."orang panggil kami dua orang yang terhina! Barangkali kerana perbuatan kami yang jahat". "Tidak", jawab Rasuluilah SAW. "Tapi sekarang kamu berdua dipanggil sebagai dua orang yang dimuliakan, kerana telah dimuliakan oleh Islam. Kami sekarang hendak menuju Madinah. Nanti temui kami di Madinah!" Rasulullah SAW berpesan kepada mereka berdua.
(Musnad Ahmad 4:74; Majma'uz-Zawa'id 6:58)

Pohon Menjadi Saksi Pengislaman seorang Badui
Abu Abdullah An-Naisaburi (Hakim) telah memberitakan pula dari Ibnu Umar ra. katanya: Semasa kami bersama dengan Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, tiba-tiba kami ditemui oleh seorang Arab badui. Apabila kami berhampiran dengan badui itu, berkata Rasulullah SAW kepadanya: "Hendak ke mana, wahai teman?!". "Hendak kembali ke kampungku",jawab badui itu. "Mahukah engkau jika aku tunjukkanmu kepada yang baik?". "Apa itu?", tanya si badui. "Engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah saja, yang Esa, tiada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad itu adalah hambanya dan UtusanNya",jawab Rasulullah SAW. "Siapa yang menjadi saksi atas apa yang engkau katakan itu?", tanya badui itu. "Engkau mahukan saksi? Engkau tak percaya kepadaku?!". "Ya, kerana aku tak kenal padamu!", jawab badui itu. "Baiklah", jawab Rasulullah SAW lagi. "Cukupkah jika pohon itu menjadi saksi?!", sambil beliau menunjuk kepada sebatang pohon yang berdekatan dengan karni. "Pohon menjadi saksi?", mata badui itu terbelalak, dia tertawa. Maka Rasulullah SAW pun memanggil pohon yang tumbuh di lereng lembah bukit itu supaya datang. Lalu pohon itu pun datang menyeret dirinya satu-satu hingga berdiri di hadapan badui itu. Dan beliau meminta kepadanya supaya menyaksikan bahwa apa yang dikatakan beliau itu adalah benar dan betul. Pohon itu lalu bersaksi dengan jelas, kemudian dia kembali semula ke tempatnya di lereng bukit itu. Orang badui itu terperanjat, dan tidak terkata-kata lagi. Kami juga merasa heran, namun begitu kami tahu yang berlaku itu adalah tanda mukjizat Rasulullah SAW. "Kalau begitu, aku percaya kepadamu!", jawab badui itu. Dia pun kembali ke kampungnya, sambil berkata, "Nanti, jika kaumku mengikutku, akan aku bawa mereka semua kepadamu". "Kalau tidak?". "Kalau tidak, aku sajalah yang akan datang kepadamu, dan duduk denganmu!"
(Al-Bidayah Wan-Nihayah 6:125; Majma'uz-Zawa'id 8:292)

Islamnya Buraidah bin Hasib ra.
Dan dari riwayat Ashim Al-Aslami yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa'ad katanya: Apabila Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, beliau singgah di sebuah kampung bernama Chamim. Beliau bertemu dengan Buraidah bin Hashib lalu ia diajak Rasulullah SAW untuk memeluk Islam. Buraidah memeluk Islam bersama-sama dengan penduduk kampungnya, dan jumlah mereka sangat ramai, semuanya datang dari kurang lebih 80 rumah. Beliau bermalam di kampung itu, dan bersembahyang Isya' sedang penghuni kampung itu mengikutnya di belakang.
(Tabaqat Ibnu Sa'ad 4:242)

Menghias Diri dengan Akhlak yang Baik

Menghiasi diri dengan akhlak yang baik termasuk unsur-unsur ketakwaan, dan tidak sempurna ketakwaan seseorang itu kecuali dengan akhlak yang baik.

Allah Ta’ala berfirman:“…(Surga itu) disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imron: 133-134)

Dalam ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menganggap bahwa bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik termasuk pilar-pilar ketakwaan.


Apa keutamaan akhlak yang baik itu ?

Diantara keutamaannya adalah :

Pertama : Akhlak yang baik termasuk tanda kesempurnaan iman seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohihul Jami’, No. 1241)

Kedua : Dengan akhlak yang baik, seorang hamba akan bisa mencapai derajat orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala, sebagaimana penjelasan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: ”Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik bisa mencapai derajat orang yang berpuasa dan qiyamul lail.” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, No. 1937)

Ketiga : Akhlak yang baik bisa menambah berat amal kebaikan seorang hamba di hari kiamat, sebagaimana sabda beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak ada sesuatu yang lebih berat ketika diletakkan di timbangan amal (di hari akhir) selain akhlak yang baik.” (Shahihul Jami’, No. 5602)

Keempat : Akhlak yang baik merupakan sebab yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah ketika ditanya tentang apa yang bisa memasukkan manusia ke dalam surga. Beliau menjawab: “Bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (Riyadhus Shalihin)

Apa yang dimaksud akhlak yang baik itu ?

Imam Hasan Al-Bashri berkata : “Akhlak yang baik diantaranya: menghormati, membantu dan menolong.” Ibnul Mubarak berkata: “Akhlak yang baik adalah: “berwajah cerah, melakukan yang ma’ruf dan menahan kejelekan (gangguan).” Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Akhlak yang baik adalah jangan marah dan dengki.”

Al-Imam Muhammad bin Nashr mengatakan: “Sebagian ulama berkata: Akhlak yang baik adalah menahan marah karena Allah, menampakkan wajah yang cerah berseri kecuali kepada ahlul bid’ah dan orang-orang yang banyak berdosa, memaafkan orang yang salah kecuali dengan maksud untuk memberi pelajaran, melaksanakan hukuman (sesuai syari’at Islam) dan melindungi setiap muslim dan orang kafir yang terikat janji dengan orang Islam kecuali untuk mengingkari kemungkaran, mencegah kedzaliman terhadap orang yang lemah tanpa melampaui batas.”(Iqadhul Himam, hal. 279)


Bagaimana memperbaiki akhlak seorang hamba ?

Akhlak seorang hamba itu bisa baik bila mengikuti jalannya (sunnahnya) Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebab beliaulah orang yang terbaik akhlaknya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4). Allah Ta’ala juga menegaskan: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yakni) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (datangnya) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Maka sudah selayaknya bagi setiap muslim mempelajari riwayat hidupnya dari setiap sisi kehidupan beliau (secara menyeluruh), yakni bagaimana beliau beradab dihadapan Rabbnya, kelurganya, sahabatnya dan terhadap orang-orang non muslim.

Salah satu cara untuk mempelajari itu semua adalah sering duduk (bergaul) dengan orang-orang yang bertakwa. Sebab seseorang itu akan terpengaruh dengan teman duduknya. Nabi bersabda: “Seseorang itu dilihat dari agama teman dekatnya. Karena itu lihatlah siapa teman dekatnya.”(HR Tirmidzi)

Kemudian wajib juga bagi setiap muslim untuk menjauhi orang yang jelek akhlaknya. Mudah-mudahan dengan begitu kita termasuk hamba-hamba Allah yang menghiasi diri kita dengan akhlak yang baik.

Wallahu waliyyut taufiq.

keterkejutan (Rasulullah)

walaupun saat kali pertama bertemu malaikat Jibril dan menerima Wahyu peresmian kenabian itu beliau begitu tenang. Namun beliau tetaplah manusia dengan seluruh sifat kemanusiaannya. Rasa gemetar karena keterkejutan yang luar biasa melingkupi diri beliau. Segera beliau turun dari gua hira dan pulang ke rumahnya dalam keadaan pucat dan letih.

@ sesampai di rumah beliau meminta keluarganya untuk menyelimutinya, "selimuti aku,selimuti aku",seraya menggigil hebat. Dan setelah gemetar beliau hilang dan kembali tenang. Beliau menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya kepada sang istri,bunda khadijah.

@ "Apa yang terjadi padaku? Aku takut pada diriku sendiri". Dan sebagai istri yang penuh pengertian,bunda khadijah menenangkan hati Rosulullah, "tidak sayangku, Alloh selamanya tidak akan mengecewakanmu, karena engkau menyambung tali silaturrahim, memikul beban dan tanggung jawab,membekali orang yang tak punya,menjamu dan memuliakan tamu,membantu orang-orang yang berhak".

@ setelah itu,keesokan harinya keduanya bertolak menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal,untuk memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan waraqah yang telah memasuki usia senja itu menguasai kitab-kitab suci injil dan taurat,yang di dalamnya terdapat kabar-kabar akan kenabian.

@ dengan seksama Waraqah mendengarkan cerita Rosulullah,serta tak hentinya hatinya bersyukur karena masih melihat dan bertemu masa sakral,masa pengutusan Nabi terakhir,bahkan bertemu dengan Nabi itu sendiri, "Demi jiwaku Yang ada dalam genggaman-Nya,engkau adalah Nabi ummat manusia ini. Telah datang kepadamu Jibril yang pernah datang pada Musa. Dan sesungguhnya kaummu akan membohongkanmu, mengganggumu, mengusirmu,bahkan memerangimu !"

@ Nabi benar-benar heran dan terpukau dengan apa yang dikatakan Waraqah, "apakah mereka akan mengeluarkanku ?!", hal itu sebab beliau berkeyakinan bahwa kaumnya mencintainya,menyukainya, bukti dari itu beliau dipanggil 'al-amin',lantas bagaimana mungkin mereka mengusir dirinya?

@ "Iya, tak ada satupun orang yang datang dengan seperti yang apa kamu bawa ini,kecuali dia mengalami permusuhan dari kaumnya dan mereka memeranginya. Ah,andai aku bisa sampai pada hari itu,dan hidupku panjang,usiaku masih muda,maka aku akan menolong dan membantumu sekuat tenagaku", papar Waraqah.

@ tak lama setelah itu,Waraqah meninggal,dan tak sempat tahu pengangkatan Nabi sebagai Rasul. .

Memberi Salam

Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim di dalam Al-Hilyah dari At-Tufail bin Ubai bin Ka'ab ra. bahwa beliau suatu ketika telah datang menemui Abdullah bin Umar r.ahuma. dan pergi bersamanya ke pasar.
Kata At-Tufail, "Apabila kami berjalan ke pasar pada waktu pagi itu, Abdullah ra. telah memberi salam kepada siapa saja yang ditemuinya, tidak kira mereka orang-orang yang menjalankan jual beli, orang miskin dan kepada siapapun mereka. Oleh sebab itu aku pun pergi kepadanya pada suatu hari dan beliau telah mengajakku ke pasar. Aku pun bertanya kepadanya, 'Apakah yang kamu lakukan di pasar sedangkan kamu tidak melakukan sebarang penjualan di sana, tidak menanyakan harga barang untuk dibeli, kamu tidak menimbang atau menukar barang di sana dan kamu tidak juga duduk di dalam majelis-majelis di pasar tersebut?' Aku pun menyuruhnya duduk saja ditempat itu untuk berbincang".
Abdullah bin Umar r.ahuma pun berkata kepadaku, "Wahai si perut besar! Adapun kita ke sana semata-mata untuk memberi salam dan hendaklah kamu memberi salam kepada siapa saja yang kamu temui".
Dikeluarkan oleh Malik dari At-Tufail bin Ubai bin Ka'ab ra.seumpama dengannya.
Di dalam riwayat lain, Abdullah bin Umar r.ahuma. berkata, "Adapun kita ke pasar semata-mata untuk memberi ucapan salam maka hendaklah kamu memberi salam kepada orang yang kamu temui".
Dikeluarkan oleh Al-Bukhari di dalam Al-Adab dari At-Tufail bin Ubai bin Ka'ab ra. seumpama dengannya.

Dikeluarkan oleh At-Tabarani dari Abu Umamah Al-Bahili ra. bahwa beliau telah memberi salam kepada setiap orang yang ditemuinya. Beliau berkata, "Aku tidaklah mengetahui seseorangpun yang mendahuluiku dalam memberi salam melainkan seorang lelaki Yahudi. Suatu ketika ia telah bersembunyi di balik tiang. Tiba-tiba dia keluar dari persembunyiannya itu memberi salam kepadaku."
Abu Umamah ra. telah berkata kepada lelaki Yahudi itu, "Celaka kamu wahai si Yahudi! Apakah yang menyebabkan kamu melakukan perbuatan sebagaimana yang telah kamu lakukan itu?" Laki-laki Yahudi itu pun menjawab, "Aku telah mengetahui bahwa kamu adalah seorang lelaki yang banyak memberi salam. Oleh karena aku mengetahui bahwa amalan itu mengandungi kebaikan dan kelebihan, lalu aku berkeinginan untuk mendapatkan kelebihan tersebut".
Abu Umamah ra. pun berkata kepadanya, "Celaka kamu, karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW telah bersabda, 'Sesungguhnya Aallah telah menjadikan ucapan salam sebagai ucapan kepada ummat kami dan keamanan bagi orang-orang yang berada di bawah tanggungan dan perlindungan kami (kafir dzimmi)".
Di dalam riwayat Abu Nu'aim di dalam Al-Hilyah dari Muhammad bin Ziyad katanya, "Aku telah memegang tangan Abu Umamah ra. sedang beliau dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Tidaklah beliau melewati seorangpun baik orang Islam, Nasrani, kecil atau besar melainkan beliau memberikan ucapan salam kepadanya. Beliau berkata,
Salamun 'alaykum. Salamun 'alaykum (kesejahteraan ke atas kamu)!
Apabila beliau sampai di depan pintu rumahnya, beliau berpaling ke arah kami seraya berkata,"Wahai anak saudaraku! Nabi kami telah memerintahkan kami agar menyebarkan salam di kalangan kami".
Di dalam riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adab dari Basyir bin Yasar katanya, "Tiada seorangpun mendahului atau bersegera dalam memberi salam selain dari Ibnu Umar r.ahuma".

Dikeluarkan oleh At-Tabarani dengan isnad Hasan dari Anas bin Malik ra. katanya, "Kami bersama-sama dengan Rasulullah SAW di zamannya. Aapabila kami berpisah dan dipisahkan oleh sebatang pohon, maka kami akan memberikan ucapan salam apabila kami saling bertemu di antara satu dengan yang lain".
Sebagaimana dalam At-Targhib. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari di dalam Al-Adab.

Antara Syukur dan Sabar

Saudaraku... syukur merupakan sikap yang menuntut pada anugrah, bagaimana Rosulullah tetap melakukan mujahadah (kesungguhan) dalam beribadah walau beliau telah mendapat jaminan terampuninya dosa baik yang sudah lalu atau yang akan datang, itu karena beliau mensyukuri ni'mat Tuhan itu.

Saudaraku... sabar merupakan sikap yang dituntut oleh anugrah, bagaimana sahabat mengatakan "kami diuji bersama Rosulullah dengan kesusahan dan kami bersabar, kemudian setelah itu kami diuji dengan kesenangan hidup maka kami tidak mampu bersabar (karena terlalu riang waktu mendapat ni'mat). (tirmidzi:2464).

Saudaraku... manakah yang lebih utama dari keduanya? ketahuilah sesungguhnya seorang mu'min itu akan besar cintanya kepada Allah, dalam surat al baqoroh ayat 165 :
والذين امنوا أشد حبالله
"adapun orang2 yang beriman sangat cinta kepada Allah".

Dan ingatlah sabda Rosulullah SAW. Ketika diriwayatkan ada seorang laki laki yang datang menemui beliau dan berkata: "ya Rosulallah, saya mencintaimu", lalu Nabi SAW bersabda: "maka bersiap siaplah anda untuk faqiir", maka berkata laki laki itu: "saya mencintai Allah" maka Rosulullah bersabda: "bersiap siaplah engkau untuk mendapat bala (ujian).

Saudaraku... ingatkah kalian pada sosok pemuda yang kaya, tampan, santun dan cerdas? Dialah sahabat Mus'ab bin Umair, duta pertama islam ke madinah, di takhrij oleh Abu Na'im di dalam kitab Hilyatu Al awliya'u dengan sanad baik, bersabda Rosulullah SAW ketika melihat Mus'ab Bin Umair berjalan kearah Nabi dengan pakaian dari kulit kambing kibas: "lihatlah orang ini (Mus'ab Bin Umair) yang telah Allah sinari hatinya, sungguh telah aku saksikan dia ditengah orang tuanya dengan sajian makanan dan minuman yang paling baik, maka cintanya kepada Allah dan Rosul-Nya mengajak dia pada keadaan seperti yang kalian lihat".

Saudaraku... fahamilah ayat dan dua hadits di atas dengan kejernihan hatimu, bahwa cinta tidak akan lahir tanpa dorongan rasa syukur kita kepada Allah, mencintai Allah dan Rosul-Nya berarti kita telah mensyukuri ni'mat Tuhan berupa syari'at islam, dan konsekwensi cinta ini adalah kesiapan mental untuk mengikuti cara hidup Rosulullah dengan kefaqirannya, begitu juga harus siap dengan ujian ujian dari Allah yang kesemua ini kita dituntut untuk sabar.

Saudaraku... ringkasnya, kedudukan syukur dan sabar bagi stiap mu'min memang tidak dapat dipisahkan, namun bila pertanyaannya mana yang lebih utama dari keduanya, maka syukur lebih utama bagi orang orang yang telah kuat iman dan tinggi ma'rifatnya pada Allah azza wa jalla dengan tanpa harus menyepelekan nilai sabar. Wallahu a'lam bi shawab.

Wednesday, September 30, 2009

Bidadari Dunia dan Akhirat

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak 186*) dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Ali Imran : 14)

186*). Yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri.

Siapakah yang tak suka dengan hal tersebut? Kita sangat menginginkan pasangan hidup, lalu menginginkan kehadiran sang buah hati. Tak dapat dipungkiri, ingin punya harta yang banyak. Ingin memiliki kendaraan terbaik. Banyak sekali keinginan-keinginan yang lain. Itu adalah hal yang wajar dan lumrah, dan Allah memberikan penekan tentang hal tersebut di penghujung ayat tersebut "... Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."


Kebahagian hidup di dunia menjadi bagian yang banyak diinginkan manusia, Allah pun mengingatkan.... Jangan terlena. Ada kebahagiaan yang hakiki yang harus diraih....

Ingat... itu hanya kesenangan sementara....

Jangan sampai hal tersebut ... akan menghilangkan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Allah pun mengingatkan.....

"Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS. At Taubah : 24)

Jangan sampai Allah dikesampingkan, ada tugas pokok yang melekat dalam diri kita,

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. " (QS. Adz Dzaariyaat : 56)

Jauh-jauh hari sebelum kita lahir kita terikat dengan perjanjian kita dengan Allah

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", " (QS. Al A'raaf : 172)

Saatnya kita menata ulang niat kita, jangan sampai niat kita tersimpangkan oleh kepentingan dunia yang hanya sementara

"Amirul mukminin, Umar bin khathab radhiyallahu anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits.

Bolehlah kita menginginkan kesenangan terhadap wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kendaraan terbaik, berbagai aktivitas bisnis.

Tapi jangan sampai lupa untuk senantiasa mengingat Allah.

Selayaknya kita harus bisa mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kita harus bisa mendapatkan pasangan yang akan menjadi pasangan hidup selamanya di dunia dan di akhirat.


Dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda:
“Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim,Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

Dalam lafazh lain:
“Sesungguhnya dunia ini adalah perhiasan dan tidak ada di antara perhiasan dunia yang lebih baik daripada wanita yang sholihah.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam lafazh lain:
“Sesungguhnya dunia ini seluruhnya adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.” (HR. Ahmad)


Ya kita harus bisa mendapatkan wanita yang sholihah!
Kita harus mendidik isteri kita menjadi isteri yang sholihah. Kita harus bisa menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah dan juga mau berdakwah.

Menjadi rumah tangga kita seperti yang diunggkapkan Rasulullah "Baiti Jannati'

Menjadikan isteri kita lebih dari Bidadari. dan bidadari pun cemburu kepadanya.

Al Imam Ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Salamah,

bahwa ia Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Ya Rasulullah, jelaskanlah padaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli…”

Beliau menjawab. “Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burung Nasar."

Aku (Ummu Salamah) berkata lagi, “Jelaskanlah padaku Ya Rasulullah, tentang firmanNya: Laksana mutiara yang tersimpan baik (Al Waqi’aj 23) ..!”

Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tak pernah tersentuh tangan manusia…”

Aku bertanya, “Ya Rasulullah, jelaskanlah kepadaku tentang firman Allah: Di dalam surga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik (Ar Rahman 70) ..!”

Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita.”

Aku bertanya lagi, “Jelaskanlah padaku firman Allah: Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik.” (Ash Shaffat 49) ..!”

Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada bagian dalam telur dan terlindung dari kuliat bagian luarnya, atau yang biasa disebut putih telur.”

Aku bertanya lagi, “Ya Rasulullah,jelaskan padaku firman Allah: Penuh cinta lagi sebaya umurnya (Al Waqi’ah 37) ..!

Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia dalam usia lanjut dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Allah menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi, dan umurnya sebaya.”

Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukan bidadari yang bermata jeli?”

Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”

Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari?”

Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”

Aku berkata, “Ya Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan merekapun masuk surga. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”

Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu diapun memilih siapa di antara mereka yang paling baik akhlaqnya. Lalu dia berkata, “Rabbi, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya…”

…Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.” (HR At Thabrani)


Lalu seperti apakah agar bidadari cemburu padamu?

Menjadikan diri shalihah, agar bidadari cemburu padamu.

Allah berfirman:

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri 289*) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)290*). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya 291*), maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya 292*). Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. " (QS. An Nisaa' : 34)

289*). Maksudnya: Tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.

290*). Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

291*). Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. Nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.

292*). Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.


Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: “Nabi Shalallahu ‘alaihiwassalam ditanya:’Siapakah wanita yang paling baik?’ Beliau menjawab:
‘(Sebaik-baik wanita) adalah yang menyenangkan (suami)-nya jika ia melihatnya, mentaati (suami)-nya jika ia memerintahnya dan ia tidak menyelisihi (suami)-nya dalam hal yang dibenci suami pada dirinya dan harta suaminya.’” (HR. Ahmad, al Hakim, an Nasa’i dan ath Thobrani dan di Shohihkan oleh al Albani).

Jadi jangan sampai salah dalam memilih pasangan, pilihlah wanita yang shalihah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihiwassalam beliau bersabda:

“Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, kecantikannya dan karena dien (agama)-nya; maka pilihlah yang memiliki dien maka engkau akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagaimana menjadi wanita Shalihah?

Apakah wanita shalihah itu orang yang berbuat baik, mau sholat, menurut kepada suami selama tidak bertentangan dengan perintah Allah sementara dirinya tidak mau memakai jilbab yang menutupi auratnya?

Citra Bidadari

Ibnu Abi Dunia rahimahullah menceritakan dari Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah . Tuturnya: “Seorang pemuda di Iraq berkhalwat untuk ibadah. Lalu ia pergi ke Mekkah dengan ditemani seorang rekannya. Setiap kali singgah di suatu tempat, ia melakukan shalat. Manakala orang-orang makan, ia malah puasa. Rekannya sabar menyertainya. Ketika akan berpisah, rekannya bertanya kepadanya: ‘Tolong beritahukan kepada aku mengapa engkau berbuat seperti yang kusaksikan?'

Pemuda itu memberi penjelasan: ‘Aku pernah mimpi melihat sebuah istana di surga yang batu batanya terbuat dari perak dan emas. Setelah seluruh sisi bangunan kulihat semuanya, lantas kudapati sebuah beranda yang terbuat dari mutiara zabarjad, dan yang satu lagi dari mutiara yaqut. Di antara keduanya terdapat seorang bidadari dengan rambut tergerai indah dan mengenakan pakaian yang lembut mengiringi kelenturan tubuhnya. Dan ia berujar: ‘Bersungguh-sungguh dalam menaati Allah jika menginginkan aku.' Wallahi , aku telah bersungguh-sungguh menginginkanmu. Sang pemuda berkata kepada rekannya: ‘Aku lakukan ini untuk meraih dia'.”

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkomentar:

“Ini dalam rangka mendapatkan satu orang bidadari, lantas bagaimana dengan orang yang ingin memperoleh lebih dari itu?”

Melalui serangkaian ayat al-Qur'an dan hadits Nabi, kita mengetahui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah menyediakan bagi para hamba-Nya yang shaleh hurul‘in (bidadari) di surga yang keindahan dan kecantikan mereka dilukiskan dengan jelas, dan sifat-sifatnya yang terlembut digambarkan oleh syari‘ah yang suci. Tujuannya agar seorang Muslim menahan diri dari beragam kesenangan yang diharamkan dan terdorong untuk mendapatkan para bidadari.

Bidadari! Dialah makhluk Allah yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan wanita idaman. Inilah salah satu nikmat yang belum dicicipi manusia. Bila kenikmatan seksual merupakan nikmat indrawi terbesar bagi manusia, maka bidadari menjadi wahana bagi seorang Mukmin untuk menikmati anugerah terbesar itu. Sebagai anugerah terbesar, tentu saja tidak sembarang orang bisa mereguknya. Tapi hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mampu mengekang diri dari beragam kesenangan yang diharamkan, demi mematuhi Allah. Pelajaran inilah antara lain yang bisa dipetik dari narasi di atas.

Dalam rangkaian haditsnya, Rasulullah pun sangat rinci sekali dalam melukiskan sosok bidadari; ia adalah istri yang suci, wajahnya putih dan cantik jelita, sangat indah rupawan, pandangannya pendek (tidak liar), hidungnya indah dan lembut, pipinya mulus, bersih dan ranum kemerah-merahan. Nabi berujar: “Ia (penghuni surga) melihat wajahnya sendiri melalui pipi bidadari yang lebih bening daripada cermin” (HR. Baihaqi).

Agar seorang Mukmin terdorong untuk meraih kenikmatan abadi di surga, Rasulullah juga melukiskan bahwa mulut bidadari teramat manis dan seyumnya memancarkan cahaya, suaranya paling merdu, selalu berada dalam keamanan dan ketenangan, selalu dalam kesenangan, selalu rela dan cinta, senantiasa menetap dan mendampingi, dipingit (tidak kemana-mana), selalu memuji lagi menyambut, rambutnya hitam legam dengan aromanya yang harum semerbak.

Di samping itu, leher bidadari halus dan panjang, dadanya bidang dan bening, buah dadanya padat, pinggang dan perutnya indah, hatinya menjadi cermin bagi suaminya, pergelangan tangan, tapak tangan dan cincinnya sangat lembut. Bidadari adalah wanita yang disucikan, dan pada saat yang sama ia juga selalu berada dalam keperawanan, tidak membosankan suami dan selalu memuaskan. Subhanallah !

Betis bidadari begitu bening, tumitnya putih mulus, kedudukannya tinggi, berlimpah kecintaan, sebaya dan sama, benar-benar suci, dan sebelumnya tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin, luput (terbebas) dari akhlak tercela, dan diciptakan oleh Dzat Yang Maha Bijaksana secara langsung. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (para bidadari) dengan langsung” (al-Waqi‘ah [56]: 35).


Artinya, Allah ‘Azza wa Jalla telah menyiapkannya dengan sempurna, baik bentuk/rupa, akhlak, perilaku maupun pemeliharaannya.

Demikian citra bidadari yang dilukiskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Mungkin sabda beliau tentang bidadari terkesan vulgar. Tapi ajaibnya, seluruh gambaran Nabi yang dibentangkan buku ini sama sekali tidak membangkitkan nafsu seksual yang liar, bahkan justru memancangkan hasrat yang menggebu untuk mengejar apa yang disediakan Allah itu dengan serangkaian kepatuhan.

Bidadari Surga

Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta
mereka dengan memberikan sorga untuk mereka”



Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat
duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:”Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?” “Ya, benar, anak muda” kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:”Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga.”


Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.


Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:”Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . .” Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu.

Ia menjawab: “Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: “Pergilah kepada Ainul Mardiyah.” Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku, mereka bergembira seraya berkata: “Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . .”


“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. “Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?” Mereka menjawab salamku dan berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu” Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.


Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: “Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . …”


Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: “Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu.” Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: “Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama”.


Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).