Monday, July 6, 2009

Wanita Ahli Syurga

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.
Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ
“Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?"(QS. Muhammad :15)

Dalam Surat Al-Waqiah ayat 10-21: Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah keni'matan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian yang dimaksud adalah umat sebelum Nabi Muhammad dan umat sesudah Nabi Muhammad SAW. Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.

Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya : “Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah :22-23)

“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)


Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau : “ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik ra>
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)

Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga
Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga?
Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?
Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia. Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :
  1. Bertakwa.
  2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
  3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.
  4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.
  5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.
  6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.
  7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.
  8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.
  9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.
  10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.
  11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.
  12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).
  13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.
  14. Berbakti kepada kedua orang tua.
  15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.
Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :
“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13).

Wallahu A’lam Bis Shawab.

Nasihat

Umamah Taghlubiyah, seorang wanita Arab terpandang menasehati anaknya Ummu Iyas binti Auf. Nasehat ini dia sampaikan ketika melepas putrinya itu menuju rumah suaminya saat dia dinikahkan.
Dia berkata, "Wahai anakku, Kalaulah nasehat boleh ditinggalkan karena kemuliaan budi dan ketinggian nasab keturunan, maka aku tidak akan menyampaikannya padamu. Namun ia perlu disampaikan untuk mengingatkan orang baik dan menyadarkan yang lalai.

Wahai anakku, jika seorang perempuan bisa melepaskan diri dari laki-laki dengan harta orang tuanya maka aku adalah orang yang paling bisa untuk itu. Tapi, itu tidak mungkin, anakku. Karena perempuan diciptakan untuk laki-laki. Dan sebaliknya, laki-laki diciptakan untuk perempuan.

Wahai anakku, saat ini engkau akan melangkah dari rumah ini, dimana kamu hidup dan dibesarkan. Kamu akan berangkat ke lembah yang belum kamu ketahui sama sekali dan akan ditemani seorang yang tidak pernah kau kenal selama ini. Makanya, dengarlah pesan-pesanku. . Jadilah engkau bagaikan budak baginya, maka dia akan berlaku seperti itu pula untukmu.

Anakku, dengarkanlah, aku akan menyampaikan SEPULUH wasiat untukmu. Jagalah wasiat ini. Ia akan menjadi penerang dan bekal bagimu dalam hidup.

Pertama, setia dan patuhlah padanya. Kepatuhanmu padanya akan melahirkan keridhaan Allah SWT.

Kedua, qana'ahlah dengan apa yang diberinya. Sikap itu akan melahirkan ketenangan dalam jiwamu.

Ketiga, peliharalah pandangannya padamu. Jangan sampai dia melihat padamu sesuatu yang tidak disenanginya.

Keempat, pelihara penciumannya terhadapmu. Jangan sampai dia mencium darimu sesuatu yang tidak mengenakkan hidungnya.

Kelima, Jagalah waktu makannya (bermakna kebutuhan biologis). Sesungguhnya rasa lapar itu bagaikan bara yang bisa membakar kapan saja.

Keenam, jagalah waktu tidurnya. Sesungguhnya gangguan pada waktu tidur bisa menyulut amarah.

Ketujuh, jagalah harta dan rumahnya. Sesungguhnya yang demikian membuatnya menghargaimu.

Kedelapan, pelihara dan hormatilah anak dan keluarganya. Sesungguhnya hal itu melatihmu mengatur segala Sesuatu dengan baik.

Kesembilan, janganlah kamu buka rahasianya. Jika kamu melakukan itu, maka tidak bisa dijamin dia akan menjaga janjinya padamu.

Kesepuluh, janganlah kau melanggar perintahnya. Sesungguhnya yang demikian itu menyulut rasa cemburu dalam hatinya.

Dan perhatikanlah dua perkara. Janganlah kamu menampakkan kebahagiaan padanya jika dia sedang dirundung sedih. Jangan pula engkau menampakkan kesedihan di kala dia berbahagia.

Ketahuilah wahai anakku, sebesar apa penghormatanmu padanya sebesar itu dia akan menyanjungmu. . . Sejauh mana kamu bisa menyesuaikan pandanganmu dengannya seperti itu pula dia akan setia padamu.

Anak gadisku, sesungguhnya kamu tidak akan mampu melakukan itu semua kecuali jika kamu mampu mendahulukan kerihdaannya atas keinginan pribadimu, dan jika kamu mampu mengedepankan hasratnya atas hasratmu. Semoga Allah melimpahkan kebaikan padamu. Selamat jalan.

Nasehat yang sangat berharga dari seorang ibu yang baik. Semoga negeri kita juga punya ibu-ibu yang seperti ini.

NASIHAT RASUL PADAMU WAHAI LELAKI
Dalam khutbah haji wada’ Rasulullah berpesan kepada umatnya tentang banyak hal. Salah satunya adalah mengenai hidup berumah tangga. Rasulullah saw berpesan:

“Ingatlah, berilah pesan yang baik terhadap istri kalian. Sesungguhnya mereka memerlukan perlindunganmu. Sedikitpun kamu jangan berbuat kejam kepada mereka. Janganlah berbuat sesuatu yang melampaui batas kepada mereka, kecuali telah nyata bahwa mereka melakukan kejahatan. Jika memang mereka melakukan kejahatan, janganlah kamu menemui mereka di tempat tidur. Jika engkau telah memisahkan mereka dari tempat tidurmu, mereka masih tidak merasa bersalah, maka pukullah mereka dengan pukulan yang ringan yang tidak melukai. Bila mereka taat, janganlah berlaku keras terhadap mereka.”

Ingatlah, sesungguhnya istrimu mempunyai hak terhadap kalian para suami. Hak kalian terhadap istrinya adalah melarang mereka mengizinkan masuk seseorang yang tidak kamu sukai kedalam kamarmu dan tidak mengizinkan masuk orang yang tidak kamu sukai ke dalam rumahmu. Hak mereka atas kamu adalah kamu pergauli mereka dengan cara yang baik, tidak memukul mukanya, tidak boleh menjelek-jelekkannya dan memenuhi segala kebutuhan mereka terutama makanan dan pakaian serta tidak boleh mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” (HR Abu Daud dan At Tirmidzi)

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw bersabda, “Ingatlah, orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Orang yang paling baik budi pekertinya adalah yang paling baik perlakuannya terhadap istrinya” (HR At Tirmidzi)

“Janganlah seorang mukmin memarahi istrinya ataupun seorang wanita beriman. Jika tidak suka terhadap salah satu sifatnya, maka pasti ada sifat lainnya yang menyenangkan. Dunia ini adalah suatu kesenangan yang sementara, dan sebaik-baik kesenangan di dunia adalah wanita yang shaleh” (HR Muslim).

Sifat Pria Yang Tidak Disukai Wanita

Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan 13 sifat-sifat lelaki berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita.

Pertama, TIDAK PUNYA VISI
Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’:1 Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.
Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”

Kedua, KASAR
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulang rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalu dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.

Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya. Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyikas seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.

Ketiga, SOMBONG
Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.

Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesebaran para istri. Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena prilaku sombong seorang suami.

Keempat, TERTUTUP
Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.

Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.

Kelima, PLINPAN
Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).

Keenam, PEMBOHONG
Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.

Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para sumai pembohong.

Ketujuh, CENGENG
Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar.

Suami yang cenging cendrung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Kedelapan, PENGECUT
Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.

Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.

Kesembilan, PEMALAS
Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindungan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal , kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.

Kesepuluh, CUEK PADA ANAK
Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw. Adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.

Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.

Kesebelas, MAU MENANG SENDIRI
Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.

Keduabelas, JARANG KOMUNIKASI
Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.

Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya.

Ketigabelas, TIDAK RAPI dan TIDAK HARUM
Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bau yang tidak enak.

Sifat Wanita Yang Tidak Disukai Pria

Para suami atau kaum lelaki (yang normal tentunya) PASTI mempunyai ketidak senangan terhadap prilaku ataupun sifat2 wanita. Karena itu kaum wanita mesti menyadari dan tidak langsung "PROTES MERASA" di lecehkan oleh pria. Oleh karena itu "pendapat" terhadap sifat-sifat wanita ini dapat menjadi "koreksi" yang positif agar bisa tampil sebagai wanita yang baik dan dikagumi. Baik di mata Allah maupun di mata manusia, lebih-lebih baik di hadapan SUAMI. Ingat bahwa SUAMI adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan "13 sifat-sifat wanita yg tidak disenangi pria"berikut yang secara umum sangat tidak disenangi oleh PRIA.

Pertama, WANITA KELAKI-LAKIAN “mustarjalah”
Perempuan tipe ini menempati urutan pertama dari sifat yang paling tidak disukai laki-laki. Padahal banyak perempuan terpandang berkeyakinan bahwa laki-laki mencintai perempuan “yang memiliki sifat perkasa”. Namun survai itu justru sebaliknya, bahwa para peserta survai dari kalangan laki-laki menguatkan bahwa perempuan seperti ini telah hilang sifat kewanitannya secara fitrah. Mereka menilai bahwa perangai itu tidak asli milik perempuan. Seperti sifat penunjukan diri lebih kuat secara fisik, sebagaimana mereka menyaingi laki-laki dalam berbagai bidang kerja, terutama bidang yang semestinya hanya untuk laki-laki… Mereka bersuara lantang menuntut haknya dalam dunia kepemimpinan dan jabatan tinggi! Sebagian besar pemuda yang ikut serta dalam survai ini mengaku tidak suka berhubungan dengan tipe perempuan seperti ini.

Kedua, WANITA YG TIDAK BISA MENAHAN LISANNYA “Tsartsarah”
Tipe perempuan ini menempati urutan kedua dari sifat yang tidak disukai laki-laki, karena perempuan yang banyak omong dan tidak memberi kesempatan orang lain untuk berbicara, menyampaikan pendapatnya, umumnya lebih banyak memaksa dan egois. Karena itu kehidupan rumah tangga terancam tidak bisa bertahan lebih lama, bahkan berubah menjadi “neraka”.

Ketiga, WANITA MATERIALISTIS “Maaddiyah”
Adalah tipe perempuan yang orientasi hidupnya hanya kebendaan dan materi. Segala sesuatu dinilai dengan harga dan uang. Tidak suka ada pengganti selain materi, meskipun ia lebih kaya dari suaminya.

Keempat, WANITA PEMALAS “muhmalah”
Tipe perempuan ini menempati urutan keempat dari sifat perempuan yang tidak disukai laki-laki.

Kelima, WANITA BODOH “ghobiyyah”
Yaitu tipe perempuan yang tidak memiliki pendapat, tidak punya ide dan hanya bersikap pasif.

Keenam, WANITA PEMBOHONG“kadzibah”
Tipe perempuan yang tidak bisa dipercaya, suka berbohong, tidak berkata sebenarnya, baik menyangkut masalah serius, besar atau masalah sepele. Tipe perempuan ini sangat ditakuti laki-laki, karena tidak ada yang bisa dipercaya lagi dari segala sisinya, dan umumnya berkhianat terhadap suaminya.

Ketujuh, WANITA YG MENGAKU SERBA HEBAT “mutabahiyah”
Tipe perempuan ini selalu menyangka dirinya paling pintar, ia lebih hebat dibandingkan dengan lainnya, dibandingkan suaminya, anaknya, di tempat kerjanya, dan kedudukan materi lainnya…

Kedelapan, WANITA SOK JAGOAN tidak mau kalah dengan suaminya
Tipe perempuan yang selalu menunjukkan kekuatan fisiknya setiap saat.

Kesembilan, WANITA YG IRI DGN WANITA LAINNYA
Adalah tipe perempuan yang selalu menjelekkan perempuan lain. Atau merasa dirinya lebih baik dari wanita lain.

Kesepuluh, WANITA MURAHAN “mubtadzilah”
Tipe perempuan pasaran yang mengumbar omongannya, perilakunya, menggadaikan kehormatan dan kepribadiannya di tengah-tengah masyarakat baik langsung maupun lewat media.

Kesebelas, WANITA YG PERASA “syadidah hasasiyyah”
Tipe perempuan seperti ini banyak menangis yang mengakibatkan laki-laki terpukul dan terpengaruh semenjak awal. Suami menjadi masyghul dengan sikap cengengnya.

Keduabelas, WANITA PENCEMBURU yang berlebihan “ghayyur gira zaidah”
Sehingga menyebabkan kehidupan suaminya terperangkap dalam perselisihan, persengketaan tak berkesudahan.

Ketigabelas, WANITA FANATIS “mumillah”
Model perempuan yang tidak mau menerima perubahan, nasehat dan masukan meskipun itu benar dan ia membutuhkannya. Ia tidak mau menerima perubahan dari suaminya atau anak-anaknya, baik dalam urusan pribadi atau urusan rumah tangganya secara umum. Model seperti ini memiliki kemampuan untuk nerimo dengan satu kata, satu cara, setiap harinya selama tiga puluh tahun, tanpa ada rasa jenuh!.

Ketika Laki-Laki Memilih
Dari hasil survai dikomparasikan dengan pendapat banyak kalangan dari para pemuda dan para suami seputar hasil survai tsb, maka bisa kita lihat pendapatnya sebagai berikut:

Sebut saja namanya Muhammad Yunus (36) tahun, menikah semenjak sebelas tahun, ia berkomentar: “Saya sepakat dengan hasil survai itu. Terutama sifat “banyak omong dan malas”. Tidak ada sifat yang lebih jelek dari perilaku mengumbar omongan, tidak bisa menahan lisan, siang-malam dalam setiap perbincangan, baik berbincangan serius atau canda, menjadikan suaminya dalam kondisi sempit, dan marah, apalagi suaminya telah menjalankan pekerjaan berat di luar, di mana ia membutuhkan ketenangan dan kejernihan pikiran di rumah.
Saya baru mengetahui dari rekan saya yang memiliki istri model ini, tidak bisa menahan lisannya di setiap pembicaraan, setiap waktu dan dengan semua orang. Suaminya telah menasehatinya berulang kali, agar bisa menahan omongan, namun ia tidak menggubris nasehatnya sehingga berakhir dengan perceraian.

Pada umumnya model istri yang banyak omong, itu lebih pemalas di rumahnya. Bagaimana ia menggunakan waktu yang cukup untuk mengurus rumah tangga dan anak-anaknya, sedangkan ia sibuk ngobrol dengan para tetangga dan teman?!.

Jamil Abdul Hadi, sebut saja namanya begitu, insinyur berumur 34 tahun, menikah semenjak 9 tahun, ia berkomentar: “Tidak ada yang lebih buruk dari model perempuan yang materialistis, selalu menuntut setiap saat, meskipun suaminya menuruti permintaannya, ia terus meminta dan menuntut!!

Tipe perempuan ini, sayangnya tidak mudah menerima perubahan menuju lebih baik, tidak gampang menyesuaikan diri dalam kehidupan apa adanya. Boleh jadi kondisi demikian berangkat dari asuhan semenjak kecilnya. Saya tidak diuji Allah dengan model perempuan seperti ini, namun justru saya diuji dengan istri perasa dan cengeng.

Dengan tertawa Mahmud as Sayyid menerima hasil survai ini, ia berkomentar: “Demi Allah, sungguh menarik ada lembaga atau Pusat Study yang menggelar survai dengan pembahasan seputar ini. Survai ini meskipun memiki cara pandang dan penilaian yang berbeda-beda, namun terungkap bahwa cara pandang itu satu sama lain tidak saling bertentangan…”

Lain lagi dengan Mahmud, sebut saja begitu. Belum menikah, mahasiswa di universitas. Ia berujar tentang mimpinya, yaitu istri yang akan mendampinginya, ia mengharap: “Pasti saya menginginkan tidak mendapatkan istri yang memiliki tipe sebagaimana hasil survai di atas. Tetapi mengingat tidak ada istri yang “sempurna”, karena itu saya masih mungkin menerima tipe perempuan di atas kecuali tipe perempuan pembohong. Istri pembohong akan lebih mudah mengkhianati, tidak menghormati hubungan suami-istri, tidak memelihara amanah, tidak bisa dipercaya. Setiap orang pada umumnya tidak menyenangi sifat bohong, baik laki-laki maupun perempuan itu sendiri. Karena akan berdampak negative pada anak-anaknya, karena anak-anak akan meniru dirinya!!.

Ketika ia ditanya tentang tipe perempuan “kelaki-lakian”. Perempuan yang menyerupai laki-laki dalam segala hal dan menyanginya dalam segala hal. Ia berkomentar: “Tidak masalah berhubungan dengan istri tipe seperti ini, selagi sifat “kelaki-lakian” tidak mengalahkan dan mengibiri sifat aslinya. Selagi ia masih mengemban kerja dan tugas yang sesuai dengan tabiat perempuan, seperti nikah, mengandung, menyusui dan lainnya.”

“Perempuan “kuat” menurut saya akan mengetahui bagaimana ia mengurus kebutuhan dirinya, mengarahkan dan mengatur keluarga dan anak-anaknya. Akan tetapi segala sesuatu ada batasnya yang tidak boleh diterjangnya. Sebagaimana seorang perempuan tidak suka terhadap laki-laki yang “banci”, seperti berbicara dan berperilaku layaknya perempuan. Sebagaimana juga laki-laki tidak suka terhadap perempuan yang mengedepankan sifat kelaki-lakian… segala sesuatu ada batas ma’kulnya. Jika melampaui batas sewajarnya, yang terjadi adalah dampak negatif.

Tidak ada seorang istri yang “sempurna”. Dan memang ada berbedaan cara penilaian dan cara pandang antara laki-laki satu dengan laki-laki lain. Namun ada kaidah umum yang disepakati oleh samua. Yaitu menolak sikap bohong, penipu, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya.”

Semoga tulisan ini menambah informasi dan pengalaman buat para istri dan calon istri. Dan tentunya bermanfaat bagi laki-laki, sehingga para suami mampu bermuasyarah atau berhubungan dengan istri-istrinya dengan cara makruf, sebagaimana yang digariskan dalam Al qur’an. Allah swt berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” Al Nisa’:19

Dan karena perempuan “syaqaiqur rijal” saudara kembar laki-laki, yang seharusnya saling mengisi dan menyempurnakan, untuk membangun “baiti jannati” sehingga keduanya mampu bersinergi untuk mewujudkan citanya itu dalam pengembaraan kehidupan ini.

NAH BAGAIMANA DNG ANDA..??!!

Keajaiban Istighfar

Masalah hilangnya kesabaran seakan sudah menjadi sebuah pemandangan yang acap kali kita temukan dalam kehidupan keseharian manusia. Bahkan kita sendiri, ketika riak gelombang tekanan hidup menerpa diri kita sendiri, kita sangat mudah kehilangan ketenangan, api amarah mudah tersulut, biasanya itu terjadi karena karena begitu saratnya persoalan hidup yang sedang kita hadapi. Namun sayang, bagi yang tak bisa menghadapinya dengan bijak, tak jarang mereka mencari-cari ketenangan dengan cara yang keliru. Ada yang menanggulanginya dengan bermeditasi tanpa arti, psikoterapi, minum obat penenang, sampai pada penggunaan narkoba. Bahkan tidak sedikit yang bunuh diri. Pertanyannya, bagaimana seharusnya kita menghadapi aneka masalah pelik yang ada didepan mata itu ?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita simak bersama sepenggal episode yang dibawakan oleh Arrabi' bin Shubaih : Suatu hari ketika Ar Rabi' sedang duduk bersama Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, datanglah seorang laki-laki menghadap dan mengeluh kepada Cucu Rasulullah ini tentang hujan yang tak kunjung tiba, Al-Hasan menasehati orang tersebut : "Bacalah Istighfar, Mintalah ampun kepada Allah !". Tak lama berselang, datang lagi seseorang dan mengadukan kesulitan ekonominya. Al-Hasanpun menasehati orang tersebut : "Bacalah Istighfar, Mintalah ampun kepada Allah !". beberapa waktu kemudian datang lagi seseorang mengadukan perihal sawah ladangnya yang kering kerontang, Al-Hasanpun menasehati orang tersebut : "Bacalah Istighfar, Mintalah ampun kepada Allah !". Lalu kami yang duduk bersama Al-Hasan, dengan nada penasaran kami bertanya :

أَتَاكَ رِجَالٌ يَشْكُوْنَ الْوَبَاءَ, وَيَسْأَلُوْنَ أَنْوَاعًا, فَأَمَرْتَهُمْ كُلَّهُمْ بِاْلإِسْتِغْفَارِ ؟
"Beberapa orang telah mendatangimu mengadukan problem hidup yang menimpa mereka, dan mereka bertanya dengan persoalan yang beragam, namun engkau menyuruh mereka
semua untuk beristighfar ?"

Mendengar pertanyaan sahabatnya itu, Al-Hasan menjawab : "Sahabatku, jawabanku tadi bukan semata lahir dari buah fikirku sendiri, tapi aku memeras sari dari Firman Allah yang menceritakan prihal Nabi Nuh ketika memerintahkan kepada kaumnya :

Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, 11. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. ( QS.NUH ; 10 )


Dengan beristighfar, kita berupaya menyalakan kembali kesadaran akan kebutuhan kita kepada Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, menghilangkan jarak antara kita dengan-Nya. Sehingga Allah hadir dalam kehidupan kita, baik disaat suka maupun duka, lapang maupun sempit, karena sesulit apapun masalah kita, Allah selalu membukakan pintu-pintu solusi bagi para Ahli Istighfar. Bukankah Nabi Junjungan kita Muhammad saw telah bersabda :

مَنْ أَكْثَرَ اْلإِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلّ هَمٍّ فَرَجًا, وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا, ورَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
"Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah menjadikan bahagia untuk setiap kesedihannya, memberinya kelapangan dalam tiap kesempitannya, dan Allah akan mengaruniainya rizki dari arah yang tidak ia sangka-sangka".

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Rasulullah

Banyak orang bertanya kepada saya: Seperti apakah Nabi saw itu, bagaimana gambaran beliau secara jasmaniah, bagaimana penampilannya, bagaimana duduknya, bangunnya, berjalannya, makannya atau tidurnya?

Saya membuka kitab-kitab hadis. Saya terpesona karena saya menemukan keluarga dan sahabat Nabi saw melukiskannya dengan sangat jelas dan terperinci. Saya pikir tidak pernah ada tokoh besar dunia yang digambarkan begitu terinci seperti kaum muslim menggambarkan Rasulullah.

Ada yang terpesona melihat wibawanya sampai tubuhnya berguncang. Nabi saw menghiburnya: “Tenang, tenang. Aku ini manusia biasa saja, yang suka makan daging.”

Ada yang menceritakan pengalamannya ketika bersentuhan tangan dengannya, “Tidak pernah aku mencium wewangian apa pun yang lebih harum dari Rasulullah. Tidak pernah aku menyentuh sutra apa pun yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah.”

Sahabat yang lain bercerita, “Aku mengambil kedua tangan Nabi dan meletakkannya pada wajahku. Tiba-tiba aku merasakan tangannya lebih sejuk dari salju dan lebih wangi dari kesturi” (Baca Al-Husayn bin Mas’ud al-Baghawi, Al-Anwâr fi Syamâil al-Nabiyy al-Mukhtâr).

Berikut ini, saya akan menyampaikan kepada Anda profil Rasulullah yang lebih komprehensi f dari laporan para sahabat tadi. Saya mengutip langsung dari kitab-kitab hadis tanpa menambah dan menguranginya. Tugas Anda dan saya ialah memasukkan uraian di bawah dalam bayangan indah di benak kita.

Al-Hasan bin Ali, cucu Nabi yang pernah hidup bersama Nabi meminta pamannya dari pihak ibu untuk menceritakan Nabi kepada kita:

“Saya bertanya kepada paman saya, Hind bin Abi Halah- yang selalu berbicara tentang Nabi yang mulia- untuk menceritakan kepadaku berkenaan dengan Nabi saw agar kecintaanku kepadanya bertambah.

Ia berkata : Nabi Allah sangat berwibawa dan sangat dihormati. Wajahnya bersinar seperti purnama. Ia lebih tinggi dari orang-orang pendek dan lebih pendek dari orang-orang jangkung. Kepalanya agak besar dengan rambut yang ikal. Bila rambutnya itu bisa disisir, ia pasti menyisir rambutnya. Kalau rambutnya tumbuh panjang, ia tidak akan membiarkannya melewati daun telinganya. Kulitnya putih dengan dahi yang lebar. Kedua alisnya panjang dan lebat tapi tidak bertemu. Di antara kedua alisnya ada pembuluh darah melintang yang tampak jelas ketika beliau marah. Ada seberkas cahaya yang menyapu tubuhnya dari bawah ke atas, seakan-akan mengangkat tubuhnya. Jika orang berjumpa dengannya dan tidak melihat cahaya itu, orang mungkin menduga dia mengangkat kepalanya karena sombong.

Janggutnya pendek dan tebal; pipinya halus dan lebar. Mulutnya lebar dengan gigi-gigi yang jarang dan bersih. Di atas dadanya ada rambut yang sangat halus, lehernya seperti batang perak murni yang indah. Tubuhnya serasi , (semua anggota badannya sangat serasi dengan ukuran anggota badan lainnya). Perut dan dadanya sejajar. Bahu-bahunya lebar, sendi-sendi anggota badannya gempal. Dadanya bidang.

Bagian tubuhnya yang tidak tertutup pakaian bersinar terang. Seberkas garis rambut yang tipis memanjang dari dadanya ke pusarnya. Di luar itu dada dan perutnya tidak berbulu sama sekali. Lengan, bahu, dan pundaknya berbulu. Lengannya panjang dan telapak tangannya lebar. Tangan dan kakinya tebal dan kekar. Jari jemarinya panjang. Pertengahan telapak kakinya melengkung tidak menyentuh tanah. Air tidak membasahinya. Ketika ia berjalan, ia mengangkat kakinya dari tanah dengan dada yang dibusungkan. Langkah-langkahnya lembut. Ia berjalan cepat seakan-akan menuruni bukit.

Bila ia berhadapan dengan seseorang, ia hadapkan seluruh tubuhnya, bukan hanya kepalanya saja. Matanya selalu merunduk. Pandangannya ke arah bumi lebih lama dari pandangannya ke atas langit. Sekali-kali ia memandang dengan pandangan sekilas. Ia selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan salam kepada orang yang ditemuinya di jalan.

Kemudian dia berkata: “Ceritakan kepadaku cara bicaranya.”
Ia berkata:”Ia selalu tampak sendu, selalu merenung dalam dan tidak pernah tenang. Ia banyak diamnya. Ia tidak pernah berbicara yang tidak perlu. Ia memulai dan menutup pembicaraannya dengan sangat fasih. Pembicaraannya singkat dan padat, tanpa kelebihan kata-kata dan tidak kekurangan rincian yang diperlukan. Ia berbicara lembut, tidak pernah kasar atau menyakitkan. Ia selalu menganggap besar anugrah Tuhan betapa pun kecilnya. Ia tidak pernah mengeluhkannya. Ia juga tidak pernah mengecam atau memuji-muji berlebihan apa pun yang ia makan.

Dunia dan apa pun yang ada padanya tidak pernah membuatnya marah. Tetapi jika hak seseorang dirampas, ia akan sangat murka sehingga tidak seorang pun mengenallinya lagi dan tidak ada satu pun yang dapat menghalanginya sampai ia mengembalikan hak itu kepada yang punya. Ketika ia menunjuk sesuatu, ia menunjuk dengan seluruh tangannya. Ketika ia terpesona, ia membalikkan tangannya ke bawah. Ketika Ia berbicara terkadang ia bersidekap atau merapatkan telapak tangan kanannya pada punggung ibu jari kirinya. Ketika ia marah, ia palingkan wajahnya. Ketika ia tersinggung, ia merunduk. Ketika ia tertawa, gigi-giginya tampak seperti untaian butir-butir hujan es.

Imam Hasan berkata: “Saya menyembunyikan berita ini dari Imam Husein sampai suatu saat saya menceritakan kepadanya. Ternyata ia sudah tahu sebelumnya. Kemudian aku bertanya kepadanya tentang berita ini. Ternyata ia telah bertanya kepada ayahnya tentang Nabi saw, di dalam dan di luar rumah, cara duduknya dan penampilannya, dan ia menceritakan semuanya.

Imam Husein berkata: ”Aku bertanya kepada ayahku tentang perilaku Nabi saw ketika ia memasuki rumahnya. Ayahku berkata: ”Ia masuk ke rumah kapan saja ia inginkan. Bila ia berada di rumah ia membagi waktunya menjadi tiga bagian, sebagian untuk Allah, sebagian untuk keluarganya dan sebagian lagi untuk dirinya. Kemudian dia membagi waktunya sendiri antara dirinya dengan orang lain; satu bagian khusus untuk sahabatnya yang khusus dan bagian lainnya untuk umum. Ia tidak menyisakan waktunya untuk kepentingan dirinya.

Termasuk kebiasaanya pada bagian yang ia lakukan untuk orang lain ialah mendahulukan atau menghormati orang-orang yang mulia dan ia menggolongkan manusia berdasarkan keutamaannya dalam agama. Di antara sahabatnya ada yang mengajukan satu keperluan, dua keperluan atau banyak keperluan lain. Ia menyibukkan dirinya dengan keperluan mereka. Jadi ia menyibukkan dirinya untuk melayani mereka dan menyibukkan mereka dengan sesuatu yang baik bagi mereka.

Ia sering menanyakan keadaan sahabatnya dan memberitahukan kepada mereka apa yang patut mereka lakukan: “Mereka yang hadir sekarang ini harus memberitahukan kepada yang tidak hadir. Beritahukan kepadaku orang yang tidak sanggup menyampaikan keperluannya kepadaku.

Orang yang menyampaikan kepada pihak yang berwewenang keluhan seseorang yang tidak sanggup menyampaikannya, akan Allah kukuhkan kakinya pada hari perhitungan.” Selain hal-hal demikian tidak ada yang disebut-sebut di hadapannya dan tidak akan diterimanya. Mereka datang menemui beliau untuk menuntut ilmu dan kearifan. Mereka tidak bubar sebelum mereka menerimanya. Mereka meninggalkan majlis nabi sebagai para pembimbing untuk orang-orang di belakangnya.

Saya bertanya kepadanya tentang tingkah-laku Nabi yang mulia di luar rumahnya. Ia menjawab: “Nabi itu pendiam sampai dia merasa perlu untuk bicara. Ia sangat ramah dengan setiap orang. Ia tidak pernah mengucilkan seorang pun dalam pergaulannya. Ia menghormati orang yang terhormat pada setiap kaum dan memerintahkan mereka untuk menjaga kaumnya. Ia selalu berhati-hati agar tidak berperilaku yang tidak sopan atau menunjukkan wajah yang tidak ramah kepada mereka. Ia suka menanyakan keadaan sahabat-sahabatnya dan keadaan orang-orang di sekitar mereka, misalnya keluarganya atau tetangganya. Ia menunjukkan yang baik itu baik dan memperkuatnya. Ia menunjukkan yang jelek itu jelek dan melemahkannya. Ia selalu memilih yang tengah-tengah dalam segala urusannya.

Ia tidak pernah lupa memperhatikan orang lain karena ia takut mereka alpa atau berpaling dari jalan kebenaran. Ia tidak pernah ragu-ragu dalam kebenaran dan tidak pernah melanggar batas-batasnya. Orang-orang yang paling dekat dengannya adalah orang-orang yang paling baik. Orang yang paling baik, dalam pandangannya, adalah orang yang paling tulus menyayangi kaum muslimin seluruhnya. Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisinya adalah orang paling banyak memperhatikan dan membantu orang lain.

Ia berkata: kemudian aku bertanya kepadanya tentang caranya ia duduk. Ia menjawab: Ia tidak pernah duduk atau berdiri tanpa mengingat Allah. Ia tidak pernah memesan tempat hanya untuk dirinya dan melarang orang lain duduk di situ. Ketika ia datang di tempat pertemuan, ia duduk di mana saja tempat tersedia. Ia juga menganjurkan orang lain untuk berbuat yang sama. Ia memberikan tempat duduk dengan cara yang sama sehingga tidak ada orang yang merasa bahwa orang lain lebih mulia ketimbang dia. Ketika seseorang duduk di hadapannya, ia akan tetap duduk dengan sabar sampai orang itu berdiri dan meninggalkannya. Jika orang meminta sesuatu kepadanya, ia akan memberikan tepat apa yang ia minta. Jika ia tidak sanggup memenuhinya, ia akan mengucapkan kata-kata yang membahagiakannya. Semua orang senang pada akhlaknya sehingga ia seperti ayah bagi mereka dan semua ia perlakukan dengan sama.

Majlisnya adalah majlis kesabaran, kehormatan, kejujuran dan kepercayaan. Tidak ada suara keras di dalamnya dan tidak ada tuduhan-tuduhan yang buruk. Tidak ada kesalahan orang yang diulangi lagi di luar majlis. Mereka yang berkumpul dalam pertemuan memperlakukan sesamanya dengan baik dan mereka terikat satu sama lain dalam kesalehan. Mereka rendah hati, sangat menghormati yang tua dan penyayang pada yang muda, dermawan kepada yang fakir dan ramah pada pendatang dari luar.

Aku bertanya kepadanya bagaimana ia bergaul dengan sahabat-sahabatnya. Ia menjawab: “ Ia ceria, selalu lembut hati, dan ramah. Ia tidak kasar dan tidak berhati keras. Ia tidak suka membentak-bentak. Ia tidak pernah berkata kotor, tidak suka mencari-cari kesalahan orang, juga tidak suka memuji-muji berlebihan. Ia mengabaikan apa yang tidak disukainya dalam perilaku orang begitu rupa sehingga orang tidak tersinggung dan tidak putus asa. Ia menjaga dirinya untuk tidak melakukan tiga hal: bertengkar, banyak omong, dan berbicara yang tidak ada manfaatnya.

Ia juga menghindari tiga hal dalam hubungannya dengan orang lain: ia tidak pernah mengecam orang; ia tidak pernah mempermalukan orang; dan ia tidak pernah mengungkit-ungkit kesalahan orang. Ia tidak pernah berkata kecuali kalau ia berharap memperoleh anugrah Tuhan. Bila ia berbicara, pendengarnya menundukkan kepalanya, seakan-akan burung bertengger di atas kepalanya. Baru kalau ia diam, pendengarnya berbicara. Mereka tidak pernah berdebat di hadapannya.

Jika salah seorang di antara mereka berbicara, yang lainnya mendengarkannya sampai ia selesai. Mereka bergiliran untuk berbicara di hadapannya. Ia tertawa jika sahabatnya tertawa; ia juga terkagum-kagum jika sahabatnya terpesona. Ia sangat penyabar kalau ada orang baru bertanya atau berkata yang tidak sopan, walaupun sahabat-sahabatnya keberatan. Ia biasanya berkata, “Jika kamu melihat orang yang memerlukan petolongan, bantulah ia.” Ia tidak menerima pujian kecuali dari orang yang tulus. Ia tidak pernah menyela pembicaraan orang kecuali kalau orang itu melampaui batas. Ia menghentikan pembicaraannya atau ia berdiri meninggalkannya.

Kemudian aku bertanya kepadanya tentang diamnya Nabi saw. Ia berkata: Diamnya karena empat hal; karena kesabaran, kehati-hatian, pertimbangan, dan permenungan. Berkaitan dengan pertimbangan, ia lakukan untuk melihat dan mendengarkan orang secara sama. Berkaitan dengan permenungan, ia lakukan untuk memilah yang tersisa (bermanfaat) dan yang binasa (yang tidak bermanfaat). Ia gabungkan kesabaran dengan lapang-dada. Tidak ada yang membuatnya marah sampai kehilangan kendali diri.

Ia berhati-hati dalam empat hal: dalam melakukan perbuatan baik sehingga orang dapat menirunya; dalam meninggalkan keburukan sehingga orang berhenti melakukannya; dalam mengambil keputusan yang memperbaiki umatnya; dan dalam melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat. “ (Ma’âni al-Akhbâr 83; ‘Uyûn al-Akhbâr al-Ridha 1:246; Ibn Katsir, Al-Sîrah al-Nabawiyyah, 2:601; lihat Thabathabai, Sunan al-Nabi saw 102-105). Wallahualam bissawab.

Do'a Yang Terdengar

Saudaraku... diantara doa doa yang terdengar menurut informasi Rasul adalah, a.l. :

ثَلاَثةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ : اَلصَّائِمُ حِيْنَ يُفْطِرَ ، وَالْاِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ اْلمَظْلُوْمِ، يَرْفَعُهَا اللهُ فَوْقَ اْلغَمَامِ وَتُفْتَحُ لهَاَ اَبْوَابُ السَّمَاءِ ( رواه احمد )

“ ada 3 kelompok orang yang do’anya tidak tertolak “ :
1. orang yang puasa s. berbuka
2. pemimpin yang 'adil
3. orang yang terdholimi / teraniaya.
Allah angkat doa mereka keatas awan dan terbukalah pintu langit ( HR. Ahmad )

dan masih banyak lagi doa yang Allah ijabah itu dalam riwyat yang lain, seperti : do'a musafir, doa kedua orang tua, doa orang yang berhaji & ber umroh. insyaalah akan kami susulkan.

Ada beberapa kiat dan cara yang harus kita lakukan agar do’a yang kita panjatkan itu menjadi doa yang terdengar.

1. Makanan yang halal
2. Yakin bahwa do’anya akan dikabulkan
3. Berdo’a dengan hati yang sadar dan penuh kekhusyu’an
4. Jangan berdo’a untuk sesuatu yang bernilai Dosa. Seperti do’a untuk kemenangan dalam berjudi,
5. Jangan berdo’a untuk memutus silaturrahim, seperti berdoa agar A dan B jadi bermusuhan, dlsb.
6. Jangan berdo’a untuk menelantarkan haqnya orang Muslim.
7. Jangan berdo’a dengan sesuatu yang mustahil.
( dinukil dari kitab Nahjussa’iid fii ‘ilmittawhiid Hal. 108 )

Adapun adab adab lain untuk terkabulnya do’a adalah :

1. menghadap qiblat
2. memulai dengan hamdalah dan shalawat kepada Nabi
3. memilih waktu yang mulia seperti hari jum’at, sepertiga malam, hari Arafah, waktu antara 2 khutbah, waktu antara adzan dan iqomat, bulan ramadhan, dll.
4. memilih tempat yang mulia seperti Mekkah, Madinah, Multazam, hijir isma’il, masjid, dll.
5. dalam keadaan bersuci.
6. menutup do’a dengan shalawat kepada Nabi

Wallahu a’lam.
semoga manfa'at

Mengenal Allah

Dalam surat al-Anfal : 2 disebutkan bahwa salah satu ciri utama Mukmin sejati adalah “ ketika disebut Nama Allah maka bergetarlah hati mereka ”. Bila kita jadikan ayat diatas sebagai Indikator, maka pasti akan timbul satu kegelisahan dibathin kita masing-masing, kenapa setiap kali Nama Allah disebut, hati kita belum bisa bergetar ?, apakah kita ini bukan termasuk Mukmin yang sejati, ataukah kita baru sebatas percaya saja dan belum mampu beriman dalam arti yang sesungguhnya. Rupanya jawaban atas pertanyaan itu ada pada sebuah key word yang kata al-Ghazali adalah Kurangnya ma’rifat (pengenalan) kita kepada Allah. Kita baru bisa berikrar tidak ada Tuhan kecuali Allah, sementara Allah dengan segala kesempurnaan-Nya itu belum kita kenali lebih dekat. Mungkin dalam Sholat kita mengucapkan kalimat takbir Allahu Akbar, namun kebesaran Allah itu tidak mampu kita hembuskan dalam setiap detak dan detik kehidupan kita. Ironi sekali.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa langkah yang harus kita lakukan untuk bisa mengenal Allah. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan :

1. Penuhi kebutuhan Ruhani, Pertajam Sinyal hati. Dalam QS. Shod: 72 Allah berfirman :

“ dan Aku tiupkan kedalam dirinya itu sebagian dari Ruh-Ku “

Dari Ayat ini jelaslah bahwa didalam tubuh kita Built in melekat unsur keTuhanan yang bernama Ruh yang Allah tempatkan dalam sebuah wadah yang bernama hati. Kenapa selama ini kita tidak bisa menangkap kebesaran Allah, mengapa selama ini kita belum bisa merasakan kemaha sempunaan Allah, jawabnya adalah karena hati kita tertutup oleh gumpalan dosa yang sering kita perbuat, sehingga sinyal Ruh menjadi lemah atau bahkan telah mati. Ketika sinyal Ruh lemah maka kita tidak bisa menangkap kebesaran Allah sebagai Cahaya diatas Cahaya, Nur Allah tidak akan menembus kedalam hati yang terselubung lapisan dosa. Na’udzubillaah.

2. IQRO’!!!, Bacalah ayat (tanda) kebesaran Allah, baik ayat tersurat (Al-quran) maupun ayat tersirat (alam semesta). Seorang Astronom akan mampu mengenal kebesaran Allah ketika ia membaca alam semesta ini, ketika ia menyaksikan betapa letak bumi begitu strategis. Dan pada saat ia menyaksikan keserasian tata kosmos ini, serta merta ia akan mampu merasakan keagungan yang Mencipta semua ini. Robbanaa maa kholaqta Haadza baathilaa. Baca dan mencoba merenungkan, mengamati, kontemplasi, riyadloh bathiniyyah, tafakur, tadabur, i'tibar atau apapun nama-Nya akan semakin menggambarkan dengan jelas kebesaran dan ke-Maha sempurnaan Dia. Tidak perlu jauh jauh, coba baca ayat-Nya yang ada dalam diri kita... subhaanallhoh... Ada sebuah ungkapan yang sangat menarik “ Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya ”.

3. Kenali Allah lewat Asmaa-ul husnaa. Secara garis besar sifat yang sekaligus Nama Allah itu terbagi kedalam dua sifat:

a. Sifat Jamaaliyyat. Yakni sifat-sifat Allah yang Indah seperti Ar-Rahman dan Ar-Rahiim, dan inilah sifat Utama Allah yang sangat Dominan.
b. Sifat Jalaaliyyat. Yakni sifat-sifat keagungan Allah seperti Al Qohhar (Maha perkasa), Al-Malik, dlsb.

Setelah kita mengenal Allah lewat Asmaa-Nya, maka tancapkan terus kedakam hati sanu bari kita dengan seringnya kita berdzikir. Nabi bersabda: ” Perbaharui Iman kalian dengan memperbanyak kalimat Laa ilaaha illallah”

Wallahu a’lam bis-shawaab.

Nasihat Kematian

كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا
" Cukuplah kematian itu menjadi Nasihat"

Andaikata kata kita tidak mendapat nasihat dari ulama, kalausaja kita tidak dinasihati oleh pak kyai, umpamanya kita jarang sekali menadpat nasihat dari orang yang paling bijak didunia ini, maka cukuplah kematian saudara kita atau tetangga kita atau orang tua kita itu menjadi nasihat yang paling bijak. jadi, setiap ada kematian itu pastilah Allah menitipkan satu nasihat yang harus diambil khususnya oleh orang yang mengenal si Mayyit tersebut. Apa saja nasihat yang terkandung dari kematian itu ?

1. MATI ITU PASTI. dengan kematian kita diingatkan kembali bahwa kematian itu pasti datang menjemput kita, "tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati". ( Ali Imron : 185)

Contohnya sudah banyak, raja saja mati apalagi rakyat jelata, orang kaya mati apalah lagi si orang miskin, yang berbadan sehat, tegar, segar dan bugar mati, apalagi yang sudah sering menderita sakit berkepanjangan. Hidup di dunia itu Cuma potongan episode yang sedang kita jalani dan akan segera berakhir seiring masa yang berubah, hari yang berganti, waktu yang berlalu.

2. MATI ITU RAHASIA ILAHI, kalau mati yang pasti itu datangnya bisa diprediksi wah enak sekal kita bisa bersiap terlbh dulu. Kematian itu adalah perkara yang sangat misterius dan rahasia, ia akan datang tanpa ucap salam menemui siapapun yang sudah tiba masanya, yang tua maupun yang muda, yang sehat ataupun yang sakit, bagai buah kelapa, yang tua jatuh, yang muda jatuh, yang cengkir jatuh, putik yang baru keluarpun jatuh,,, bila waktunya sudah tiba siapapun akan tak ada yang bisa mencegahnya

"Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya". ( Al A'raf : 34 )

Kita sering menyaksikan ada orang yang secara kasat mata sehat tapi meninggal terlebih dahulu sementara yang sakit sampai saat ini masih hidup lebih lama

كَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ بِغَيْرِ عِلَّةٍ وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ طُوْلَ الدَّهْرِ
Berapa banyak orang yang sehat mati tanpa sakit yang diderita
Dan berapa banyak orang yang sakit hidup dalam waktu yang lebih lama

3. MATI ITU ADALAH HIDUP YANG HAKIKI, mati bukan akhir segalanya, Rasul telah mendefinisikan apa yang dimaksud dengan kematian itu, kata beliau :

اَلْمَوْتُ بَابٌ وَكُلُّ النَّاسِِ دَاخِلُوْنَ
" Mati itu adalah sebuah pintu yang akan dilewati oleh setiap manusia "

Jadi, mati itu hanya sebuah pintu yang akan kita lewati, kalau mati adalah akhir dari segalanya maka yang punya banyak urusan, yang hutangnya bertumpuk, yang dikejar kejar debt collector,, kalau urusan mau selesai gampang, MATI AJA, SELESAI ? ternyata tidak

MATI ITU CUMA WAITING ROOM, apa yang yang ditunggu ? pengadilan alam mahsyar, dimana semua amal perbuatan manusia akan diperhitungkan oleh Allah SWT. Pasti diadili, Akan dihisab, bakal ditimbang,

Jangan takut mati karena mati itu pasti,
jangan terlena dalam dosa karena mati itu datangnya tiba tiba,
dan jangan terlalu berani mati karena ia bukan akhir segalanya,

yang harus jadi perhatian kita semua adalah bagaimana menyikapi itu semua? jawabannya adalah tanyakan diri kita masing masing, sudahkah kita memiliki bekal untuk menghadapi kematian itu bila ajal tlah tiba ? lalu, bekal apa yang harus kita siapkan ? bekal yang harus kita siapkan dan akan terus kita rasakan hasilnya sampai kita mati adalah : AMAL SHALEH yakni 'amal yang dapat mengantarkan seseorang mencapai HATI YANG BERSIH, KALBU YANG PENUH CINTA & AKHLAQUL KARIMAH

Raih dunia, genggam ia ditangan bukan dihati,
jangan terlena karna kita tak tahu kapan datangnya,
manfa'atkan ia untuk hari kepulangan nanti, hari keabadian nan pasti.

“ Pada hari dimana tidak lagi berguna harta kekayaan, tidak lagi bermanfaat anak keturunan, kecuali mereka yang datang keharibaan Allah dengan membawa hati yang bersih “. ( Assyu’ara : 88 – 89 )

Wallohu a'lam bis-showaab.

Nikah Itu Ibadah

Nikah didalam Islam memiliki banyak maksud dan tujuan yang sangat mendasar, diantaranya adalah :

1. Nikah sbg sarana untuk melampiaskan kebutuhan biologis, karena Allah pencipta manusia tentu Maha Tahu akan kebutuhan hamba-Nya. Manusia diberi nafsu, maka Allahpun memberikan koridor untuk mengalirkan nafsu tersebut pada tempat yang sebenarnya, nafsu makan tentu harus dipenuhi hasratnya, tapi ada aturan dan ketentuannya, seperti makan yang halalan thoyyiban, tidak berlebihan, dlsb. begitupun dengan nafsu biologis ini, yang memang built in Allah setting dlm diri manusia. untuk itu Allah sediakan sebuah lembaga yang suci dan sakral yang bernama NIKAH, ingat kata kata dalam film monumental ayat ayat cinta ketika Noura menulis surat untuik pujaan hatinya Fakhri “ aku ingin menjadi yang halal bagimu untuk kau cumbu... ” hhh maa syaaallah, itu artinya apa “ nikahi aku mas ” tapi ingat, melampiaskan hasrat biologis bukan tujuan utama dari pernikahan, sebab kalau Cuma itu, maka akan banyak orang yang akan dengan mudahnya menikah dengan alasan tersebut.

2. Nikah adalah cara untuk mengembanmg biakkan keturunan

تَزَوَّجُوْا الْوَلُوْدَ الْوَدُوْدَ اِنِِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلاُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Nikahilah olehmu wanita yang subur dan mencintai, sesungguhnya aku berbangga sekali dengan banyaknya ummatku dihari qiyamat nanti " (HR.Muslim)

Namun inipun bukan tujuan PALING INTI dari sebuah pernikahan, karena kalau ini yang jadi tujuan utamanya lalu bagaimana dengan pasangan yang belum dan tidak dikarunia keturunan?

3. Nikah adalah ibadah. Inilah tujuan pernikahan yang paling hakiki. Nabi bersabda :

اِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ دِيْنِهِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِى النِصْفِ الْبَاقِي

" Apabila seorang hamba telah menikah maka ia berarti telah menyempurnakan separuh agamanya, maka bertaqwalah kepada Allah untuk mendapat separuh yang tersisa "

Bayangkan, tidak tanggung tanggung, dengan menikah maka kita sudah meraih separuh nilai keagamaan kita, dengan kata lain, ibarat sebuah gelas, jika ada orang sudah sholat, sudah puasa, berzakat dan berhaji tapi belum nikah, berarti dia baru dapat separuh dari nilai agamanya ( belum sempurna ),

ada sebuah dialog ringan seorang sahabat yg bertanya kepada Rasulnya, “ya Rasul, kalau saya berhubungan dengan wanita yang bukan istri saya ? “ Nabi menjawab “ dosa besaar “, “ kalau dengan istri saya ? “ Nabi melanjutkan “ dan pada setiap kehormatan isteri terdapat pahala bershodaqoh “

kalau ini yang jadi landasan, subhaanallah saya yakin banyak rumah tangga yang akan hidup bahagia. Yang jadi persoalan sekarang adalah, karena nikah itu ibadah, dan ibadah itu hanya akan diterima disisi Allah jika dilandasi dengan ilmunya, dengan bahasa lain, kalau pernikahan itu mau menjadi ibadah yang diterima, dan juga mampu mengantarkan seseorang ke gerbang bahagia dan sakinah maka harus tahu ilmunya terlebih dahulu, apa itu ilmunya ? mari kita lihat … dalam ayat yang sering dibaca oleh qori dlm acara aqad nikah, disitu disebutkan bahwa kalau rumah tangga mau sakinah mau landasannya ada 3 :

1. Mawaddah, artinya cinta, cinta memang harus ada dalam sebuah pernikahan, mawaddah identik dengan kecintaan dan rasa suka pada fisic dan outer beauty, ini mungkin yang dikatakan dalam sebuah syi'ír :

عَيْنُ الرِضَي عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ # كَمَا اَنَّّ عَيْنَ السُخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَ
Mata yang terbungkus cinta tak pernah memandang hina kekasihnya
Seperti halnya mata yang diselimuti benci selalu melihat yang ia tidak sukai


keindahan fisik akan segera berubah seiring perjalanan waktu, berputarnya masa, lambat laun mawaddah mungkin saja segera sirna saat pasangan hidupnya dimakan usia, karena itu harus ada MODAL yang kedua yaitu :

2. Rahmah, adalah kasih sayang yang muncul karena ketidak berdayaan seseorang, jadi boleh dikatakan rahmah itu adalah rasa kasihan terhadap pasangan hidup. Coba tanya kepada pengantin lama, apa yang menjadi perekat teli temali hubungan rumah tangga mereka ? rata rata jawabannya adalah “ kalau dulu sih karna cantiknya, tapi sekarang, saya kasihan melihat perjuangan dan pengorbanan istri selama ini “ istri sudah merupakan bagian hidup yang tak terpisahkan. Dan harus diingat, itu jika pasangannya berakhlaq mulia, jadi kalau mawaddah identik dengan kecintaan terhadap fisik, maka rahmah identik dengan inner beauty, kecantikan budi, keindahan pekerti.

Bangunan rumah tangga akan semakin kokoh jika ditambah dengan modal yang ketiga yaitu amanah,,,

3. Amanah, nikah itu amanah sebagaimana yang Nabi sabdakan :

اَخَذْتُمُوْهُنَّ بِاَمَانَةِ اللهِ

Kalian ( laki laki ) telah mengambil istri istri kalian dengan
sebuah amanah besar dari Allah

Maa syaa-allah, ketahuilah wahai saudaraku, saat aqad nikah yang menjadi saksi pernikahan bukan Cuma yang menanda tangani di surat nikah, bukan Cuma bapak penghulu, tetamu, sanak famili dan handai taulan yang menyaksikan, tapi lebih dari itu, malaikat dan Allah secara langsung ikut menyaksikan penyerahan amanah besar ini, karena itu jaga baik baik amanah Allah tersebut, sebab tanggung jawabnya teramat besar disisi Allah jika kita menyianyiakan amanah.

ingat pesan Nabi, kalau ingin hidup rumah tangga bahagia, hiasi dan terangi rumah kalian dengan shalat dan bacaan al quran, mafhum mukholafahnya, tidak pernah bahagia, tidak akan pernah sakinah rumah tangga yang bergelimang harta tapi penghuninya berisikan orang orang yang suka mempermainkan shalat. Lalu budayakan pergaulan yang baik, saling mengisi dan menyadari kekurangan yang dimiliki pasangan kita, ingat pasangan kita bukan malaikat, dia manusia biasa yang bisa salah, bisa lupa dan bisa saja keliru. Ketahuilah ! Nikah itu pintu rizqi dan keberkahan, tapi jika kita tahu kunci pembuka keberkahan itu, apakah kunci pintu rizki dan keberkahan itu ? ibu dan Ayah… carilah barokah pada keduanya, dulu sebelum nikah mamah ayah kita Cuma satu, sekarang sesudah menikah ibu ayah kita jadi dua, ingat ridho Allah bergantung ridho orang tua, dan murka Allah terletak pada marahnya orang tua, tidak akan pernah bahagia seorang hamba, malang melintang diatas dunia, sepintar apapun dia, sehebat apapun dirinya, sebanyak apapun harta kekayaannya, jika dia durhaka kepada orang tua.

Hikmah dan manfa'at lain dari nikah adalah nikah membawa berkah sebagimana Allah menjanjikan itu dalam firman-Nya :

" dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui". (QS. Annuur : 32)

- Nikah menjadi benteng dari zinah.... semoga manfa'at...

Wallohu a'lam...

Ibuku... Surgaku...

Didalam al Quranul Mubiin, ada beberapa kalimat yang hampir selalu disebut secara bergandengan dan berurutan, seperti Perintah shalat yang selalu diikuti dengan perintah menunaikan ibadah zakat. Perintah ta’at kepada Allah selalu disusul dengan perintah Ta’at kepada Rasul-Nya. Dlsb. Nah, salah satu kalimat yang selalu disebut bergandengan adalah perintah untuk bersyukur kepada Allah yang hampir selalu diiringi dengan perintah berbakti dan berterima kasih kepada kedua orang tua. Maknanya apa ?, maknanya adalah, shalat kita setiap hari, puasa kita tiap ramadhan, zakat kita setiap tahun dan Ibadah hajji kita ke Baitulloohil harom, tidak akan punya makna apa apa, tidak akan bisa menyelamatkan kehidupan kita di Akhirat kelak, ketika kita sebagai anak tidak pandai berbakti kepada kedua orang tua, tidak mampu berterima kasih kepada Ayah dan bunda ( Coba lihat QS. Luqman : 14 dan QS. Al Isra : 23 ).


- Suatu ketika Rasul ditanya oleh seseorang : “ Ya Rasul, sunnguh saya telah menggendong ibu saya sejauh 2 farsakh di jalan berpasir yang terik, andai atas pasir itu diletakkan sepotong daging niscaya matang daging itu. Apakah dengan begitu saya telah menyampaikan rasa terima kasih saya kepadanya ? “, Nabi menjawab “ la’alla an yakuuna litholqotin waahidatin, mungkin hal itu baru bisa membalas sedikit rasa sakitnya saat bunda melahirkanmu “. ( HR. Thobroni )


- Ibnu Umar pernah melihat ada seorang lelaki dari Yaman sedang thowaf sambil menggendong ibunya, kemudian laki laki bertanya kepadanya : “ apakah dengan seperti ini aku telah membalas kebaikan ibuku ? “ Ibn Umar menjawab : “ sama sekali belum, bahkan belum bisa membalas satu kali helaan nafasnya “
Jahimah datang menemui Rasul dan berkata : “ saya ingin berperang wahai Rasul, dan sungguh saya datang kesini untuk meminta pendapat “ Nabi berkata : “ apakah kau masih punya ibu ? “ ia mengangguk, lalu Nabi bersabda : “ rawatlah ia dengan penuh kasih sebab surga ada di antara kedua kakinya ( Ibn Majah )

Suatu hari diatas makam seorang sahabatnya yang bernama Alqomah, Nabi berpesan kepada para sahabat waktu itu ( dan hakikat pesan ini berlaku pula untuk kita sebagai ummatnya ). Kata Beliau : “ Wahai kaum Muhajirin dan Anshar !!! barangsiapa yang lebih mengutamakan istrinya ketimbang Ibunya, lebih cinta kepada pasangannya mengalahkan cintanya kepada ibunda, maka bagi orang tersebut laknat dari Allah, dilaknat segenap para Malaikat dan dilaknat pula oleh seluruh ummat manusia. Ketahuilah ! bahwa Ridlo Allah itu, tergantung pada ridlonya orang tua, demikian pula murkanya Allah pun bergantung pada marah dan murka Ayah bunda “


Pantas saja, jika pada satu ketika Rasul ditanya tentang siapakah manusia yang paling berhaq dipergauli dangan sebaik baiknya, siapakah orang yang paling harus dihormati dengan penghormatan setinggi tingginya, maka Rasul dengan jelas dan tegas berkata : Ibumu, ibumu, dan ibumu, baru setelah itu ayahmu ( HR. Bukhori ). Subhaanalloh.

Tanyalah kepada orang orang sukses diatas dunia ini, apa kiat keberhasilan mereka,..? bacalah torehan sejarah yang telah mengukir nama orang orang besar, apa kunci sukses mereka ..?.

Rasulullah pernah memerintahkan kepada Umar bin Khatthab untuk minta didoakan apabila satu saat nanti ia bertemu dengan seseorang yang bernama Uwais al Qorni. Saudaraku, bukankah Umar adalah sahabat pilihan, bukankah Umar seorang khalifah idaman yang selalu jadi panutan, bukankah jika Umar berdoa kita yakin bahwa doanya pasti dikabulkan, lantas mengapa Rasul memerintahkan agar Umar minta didoakan jika bertemu dengan Uwais al Qorni, gerangan apa yang membuat doa Uwais begitu berharga, amalan apa yang dimiliki Uwais sehingga kedudukannya begitu mulia, ternyata, setelah melalui sebuah investigasi ditemukan sebuah jawaban, kedudukan Uwais begitu mulia, doa Uwais begitu berharga karena ia adalah seorang anak yang sangat cinta terhadap ibunya, Allahu Akbar. Mahatma Gandhi pernah berkata : kunci sukses yang aku punya adalah doa dari ibunda. Hadirin sekalian, silahkan minta doa kepada para Ulama dan orang orang sholih lainnya, boleh saja memohon doa dari manusia yang hatinya dipenuhi dengan keikhlasan, namun kenapa kita sering lupa, bahwa ternyata dirumah kita ada manusia keramat yang sangat mustajab doa doanya, kenapa kita tidak menyadari bahwa disamping kita ada seorang manusia yang jika ia berdoa pintu ‘arsy segera terbuka, siapa lagi ia jika bukan Ibunda, “ doa orang tua bagi anaknya adalah sama seperti doa Nabi untuk ummatnya “. OLEH KARENA ITULAH, khususnya bagi kita yang saat ini masih bertemu dengan kedua orang tua atau salah satu dari keduanya, kita yang saat ini tengah survive dan berjuang menggapai kesuksesan, mungkin ada diantara kita yang saat ini punya planning / Rencana untuk memulai sebuah usaha, atau kita yang sekarang sedang berada pada posisi apa adanya, jika kita kita ingin sukses dalam setiap usaha, jika kita ingin berhasil menemukan nilai sebuah bahagia, maka kata kuncinya adalah : berbaktilah kepada kedua orang tua, datangi keduanya, ciumlah tangan ibunda, pandanglah wajah ayahanda, dan mintalah doa dari lisannya. Namun sebaliknya, siapapun kita, betapapun hebatnya kita, berapapun banyaknya harta kekayaan kita, setinggi apapun pangkat dan jabatan kita, jika kita tidak pandai berbakti kepada keduanya, andai kita memerankan diri menjadi anak yang durhaka, percayalah ! malang melintang kita diatas dunia sekejap matapun tidak akan pernah hidup bahagia.

Disisi lain, dalam sebuah kesempatan Rasulullah pernah bersabda : “ rugi besar bagi seorang manusia yang masih sempat bertemu dengan kedua orang tuanya, namun dia tidak bisa masuk kedalam surga “. Jadi, lewat untaian mutiara hadits ini, Rasul ingin memberitakan kepada kita, bahwa keberadaan kedua orang tua adalah merupakan ladang amal yang sangat subur untuk ditanami pepohonan ibadah, dan ladang yang subur tadi akan siap memberikan hasil panenan pahala yang melimpah ruah. Bayangkan saudaraku! memandang keduanya saja dengan pandangan penuh kasih sayang, maka kata Nabi, sang anak tersebut akan mendapatkan catatan pahala hajji yang mabrur. Itu baru sekedar memandang saja, apalah lagi jika kita mampu berbakti dan membahagiakan keduanya, masyaa-allaah.

kedua orang tua kita adalah pintu bagi keberkahan hidup manusia, betapa tidak, dalam tubuh kita mengalir air susunya. Merekalah pintu kebahagiaan kita semua, karena pada jasad dan badan kita tumbuh darah dagingnya. Sadarkah kita, ketika bunda mengandung, dijaganya kita dengan penuh rasa sayang, ibarat kata, jika ibu terjatuh kedepan, ia lebih memilih mukanya hancur ketimbang janinnya gugur, kalau ia jatuh kebelakang ia lebih suka kepalanya retak daripada kandungannya rusak, andai ia jatuh kesamping ia lebih rela tangannya yang patah ketimbang anaknya yang terluka parah, lalu ketika ibunda melahirkan kita, Allahu Akbar, penderitaanya bertambah parah, bertaruh nyawa, meregang raga, berpacu antara hidup dan mati, sakit diatas sakit tak diambil peduli, berjuang dalam semangat cinta, berkuah darah, bersimbah keringat, bermandikan air mata, hanya satu asa & harapan dalam hatinya, semoga anaknya dapat lahir dengan selamat dan sempurna. Subhaanallooh ,,,

Ibu...mamah... bunda... ummi... apapun sebutanmu, surgakan aku... surgalah dirimu...

Amal Terbaik

Suatu hari Ibnu Abbas ditanya tentang apakah Bulan, hari dan amal yang terbaik itu, maka Ibn Abbas berkata : ” Bulan yang terbaik itu adalah bulan Ramadhan, hari yang terbaik itu adalah hari jum’at dan amal yang terbaik itu adalah sholat pada waktunya ”, sampailah berita itu kepada Imam Ali KW. Maka ia pun berkata :

فَقَالَ عَلِيٌّ لَوْ سُئِلَ الْعُلَمَاءُ وَالْحُكَمَاءُ وَالْفُقَهَاءُ مِنَ الْمَشْرِقِ اِلِى الْمَغْرِبِ َلأَجَابُوْا بِمِثْلِ مَا أَجَابَ بِهِ ابْنُ عَبَّاسٍ اِلاَّ أَنِّي أَقُوْلُ : اِنَّ خَيْرَ اْلأَعْمَالِ مَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْكَ وَخَيْرَ الشُهُوْرِ مَا تَتُوْبُ فِيْهِ اِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوْحًا وَخَيْرَ اْلاَيَّامِ مَا تَخْرُجُ فِيْهِ مِنَ الدُنْيَا اِلَى اللهِ مُؤْمِنًا بِاللهِ

” Maka Imam Ali berkata : Jika seluruh Ulama, Hukamaa dan Fuqohaa’ ( Ahli Fiqih) ditanya tentang pertanyaan itu maka pasti mereka akan menjawab seperti apa yang dijawab oleh Ibn Abbas, kecuali aku, aku akan berkata : bahwa amal yang terbaik itu adalah amal yang diterima oleh Allah, dan bulan yang terbaik itu adalah 1 bulan dimana engkau bertaubat ( didalam bulan itu) dengan taubat yang sesungguhnya, sedangkan hari yang terbaik adalah hari dimana kelak kau meinggalkan dunia menuju Allah dalam keadaan beriman kepada Allah ”

Jilbab

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS33:59)

Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah. Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya. Ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab, "Insyaallah. Yang penting hati dulu yang berjilbab." Sudah banyak orang yang menanyakannya maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.

Hingga di suatu malam...

Ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas di pinngir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya. Ia tidak sendiri. Ada beberapa wanita disitu yang terlihat jjuga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih, seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.

"Assalamualaikum, saudariku.."

"Wa alaikumsalam.. Selamat datang, saudariku."

"Terima kasih. Apakah ini surga?"

Wanita itu tersenyum.
"Tentu saja bukan, saudariku. ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga."

"Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini."

Wanita itu tersenyum lagi.
"Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku?"

"Aku selalu menjaga waktu sholat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah."

"Alhamdulillah.."

Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di taman mulai memasukinya satu persatu.

"Ayo, kita ikuti mereka." kata wanita itu sambil setengah berlari.

"Apa di balik pintu itu?" katanya sambil mengikuti wanita itu.

"Tentu saja surga, saudariku" larinya semakin cepat.

"Tunggu...tunggu aku.." ia berlari namun tetap tertinggal.

Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum padanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak, " Amalan apa yang telah kau lakukan hingga kau begitu ringan?"

"Sama denganmu, saudariku." jawab wanita itu sambil tersenyum.

Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu, "Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan?"

Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata, "Apakah kau tak memperhatikan dirimu apa yang membedakan dengan diriku?"

Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.

"Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke surgaNya tanpa jilbab menutup auratmu?"

Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata, "Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini. Maka kau tak akan pernah mendapatkan surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai di hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati."

Ia tertegun..lalu terbangun..beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan sholat malam. Menangis dan menyesali perkataannya dulu..berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.
--------------------

Airmata Rasulullah

Tiba-tiba dari luar pas pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Cinta Ilahi

Melekatnya cinta didalam jiwa manusia merupakan motor penggerak sekaligus penyemangat yang amat besar dalam melestarikan hidup umat manusia.
Kalau bukan karena cinta, tentu saja manusia tidak pernah terdorong gairah hidupnya untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya.Apapun hasilnya, kalau bukan karena fenomena cinta, tak akan pernah ada gerakan, gairah kreatifitas dan apresiasi, pembangunan dan kemajuan di dunia ini.

Fenomena cinta juga merupakan pengikat paling kuat didalam hubungan antar anggota keluarga, kerukunan bermasyarakat, rasa empaty dengan sesama makhluk hidup juga penegakan keadilan, ketentraman, keselamatan dan keamanan disegala penjuru dunia.
Betapa banyak anjuran-anjuran dalam Islam bagi pemeluknya baik itu berupa firman Allah dalam Al-Qur`an ataupun berupa Hadits-Hadits Nabi yang memerintahkan untuk selalu menebar cinta dimana saja dan kepada siapa saja.
Cinta kepada orang tua, cinta kepada saudara yang seiman dan seakidah, cinta kepada tetangga, bahkan cinta kepada semua makhluk cipataan Allah Swt. Namun bagi seorang mukmin sejati, cinta yang palins sejati dan suci adalh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang mukmin yang telah merasakan kelezatan iman dalam sanubarinya, ia aka mencurahkan segala cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam hal ini, Hujjatul Islam Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Ghazaly punya analisa yang sangat menakjubkan. Kata Beliau, bahwa pada ghalibnya kuncup-kuncup cinta akan bermekaran dihati seseorang karena tiga perkara : 1. Al- Jamal .2. Al- Kamal 3. An Nawal

1. Al-Jamal artinya indah, elok, cantik jelita, tampan rupawan.Setiap manusia akan jatuh hati apabila melihat, mendengar sesuatu yang indah, dan jiwanya akan tertawan jika menyaksikan pesona yang terpancar dari sesuatu yang indah. Pertanyaannya sekarang, Adakah dijagad raya ini yang keindahannya, keelokannya melebihi Allah Swt Dzat yang Maha Indah, yang mengenalkan keindahan-Nya dengan aneka ciptaannya yang indah ? tidak ada sama sekali bahkan segala keindahan bersumber dari-Nya.Pantaslah Rabi`atul `Adawiyah Tokoh Shufi wanita kenamaan, karena begitu dimabuk cinta dengan Allah beliau menggubah Sya`ir :

أُحِبُّكَ حُبَّيْنِ، حُبَّ الْهَوَى # وَ حُبًّا لِأَنَّكَ أَهْلٌ لِذَاكَ
فَأَمّاَ الَّذِيْ هُوَ حُبُّ الْهَوَى # فَشُغْلِيْ بِذِكْرِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
وَأَمَّا الَّذِيْ أَنْتَ أَهْلٌ لَهُ # فَكَشْفُكَ لِلْحُجُبِ حَتَّى أَرَاكَ
فَلاَ الْحَمْدُ فِىْ ذَاكَ لِيْ # وَلَكِنْ لَكَ الحَْمْدُ فِىْ ذَا وَذَاكَ
Aku mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta rindu dan cinta karena engkau layak dicinta
Adapun hakekat cinta rindu, maka itulah kesibukanku
Dengan mengingat-Mu jauh dari siapa saja selain-Mu
Adapun hakekat cinta karena Engkau layak dicinta
Karena engkau berkenan menyingkapkan semua hijab
Sehingga aku dapat melihat-Mu
Maka, tiadalah puji bagiku pada ini dan itu
Tetapi, memang milik –Mu lah
Segala pujian segala puji pada ini dan itu

Berserah Diri

Untaian kata indah, barisan kalimat megah, kumpulan mau’idhoh hasanah, taburan bagi pendamba hidayah, Al quran adalah jawabannya, tersirat Dalam QS. Al Insyiroh : 7 – 8 Allah memandu para hamba-Nya, menuntun manusia menuju tangga sukses dan bahagia :

“ maka apabila kau telah menyelesaikan satu pekerjaan maka segeralah bersungguh sungguh mengerjakan urusan berikutnya. Dan kepada Tuhanmu maka berharaplah
( kesuksesan ) dari-Nya “

inilah watak utama manusia Muslim, hidupnya selalu disibukkan dengan aneka karya dan beragam aktifitas, waktunya penuuh dengan amal nyata tanpa harus banyak bicara, bagi seorang mukmin tak ada kamus dalam hidupnya untuk bermalas malasan, ia selalu meniru Allah yang setiap saat selalu “sibuk“ mengurus makhluqNya “ كَََُّل يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ ‘’ (Ar Rahman :29 ).

Ada satu ungkapan mutiara hikmah dari sang bijak yang sungguh menarik yaitu : اَلْحَرَكَةُ َبرَكَةٌ makna bebasnya adalah ; “ rizqimu akan barokah, nilaimu pasti bertambah, prestasimu akan terus melimpah, jika engkau senantiasa berharokah “ ya harokah artinya bergerak, tidak jumud dan statis, tidak berpangku tangan, bukan menghitung bintang, bermalas malasan, dibenaknya hanya ada sekumpulan angan angan, cita citanya tinggi tapi semangatnya telah mati.

Dalam rangkaian ibadah yang Rasul ajarkan pada ummatnya, disitu dapat kita lihat betapa Islam sangat mengajarkan kepada kita sebuah exercise / riyadloh / latihan agar kita terus bergerak, lihat saja ibadah sholat, saat memulai takbirotul ihrom kita mengerakkan tangan, mulut kita bergerak menguntai faatihatul kitab, ruku’, I’tidal, sujud, tahiyyat dan bahkan saat salam terakhirpun kita gerakkan kepala ke kanan dan kiri. Masyaaallooh. Demikian halnya dengan ibadah haji, ibadah yang 90 % melibatkan aktifitas fisik, ambil contoh saja thowaf, thowaf adalah gerakan tak kenal henti, sebentar saja kita berhenti putaran arus manusia akan siap menghempas kita, Sa’I melambangkan sebuah kerja keras yang optimal dan melelahkan, begitupun dengan melontar jamarot, dst.

Memang adakalanya kita harus harus Shoum dan Wuquf, artinya sesekali kita juga perlu untuk berdiam diri sejenak, namun bagi seorang mukmin, prosentase gerak harus jauh lebih besar dibanding dengan diamnya kita, dan -- sebagai catatan kecil -- berdiam dirinya kita pun sebenarnya dalam rangka menghitung diri sambil merencanakan apa langkah berikutnya yang akan kita lakukan.

Dari sini kita dapat melihat, bahwa Seseorang yang ingin menggapai dan mencapai kesuksesan, maka pilihan dalam hidupnya Cuma satu, yaitu BERGERAK tanpa kenal henti. Otak kita bergerak mencari terobosan terobosan baru, mencari kiat kiat andalan dan menentukan sebuah inovasi. Mata kita terus kita gerakkan melihat dan mencari peluang peluang yang terbuka dihadapan kita, kaki kita langkahkan dalam mengejar ketertinggalan, melangkah keluar rumah seperti halnya seekor burung meninggalkan sarangnya. Bergerak terus menghampiri klien, melobby para petinggi dalam bingkai silaturrahmi, mendatangi halaqoh halaqoh keilmuan untuk memperluas wawasan keberagamaan. Allah berfirman :

"Dialah ( Allah ) Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (akan kembali setelah ) dibangkitkan". ( QS. Al Mulk : 15 )

jika demikian, apakah mungkin sukses itu kita raih jika kita tidak mau bergerak ?

Mengapa tidak kita tengok universitas terbuka alam semesta, bukankah ia banyak memberikan pelajaran maha berharga buat manusia. Alam dan isinya ini tidak pernah sedetikpun berhenti bergerak, bumi mengitari matahari dan rembulan tanpa kenal lelah. Mataharipun bergerak mengitari milyaran bintang di angkasa raya, dari dinamisasi ini terciptalah siang yang terang, siang menghilang lalu muncullah indahnya malam yang temaram, coba layangkan pandangan mata ke sekitar kita, Ombak yang terus mendebur menyibak pantai, nyiur tetap melambai dihembus angin berderai, gesekan antar daun dan ranting menciptakan irama alam yang begitu mengasyikkan.


Coba hayati dan rasakan kembali, saat manusia tidur sekalipun seluruh organ dalam mekanisme tubuh ini terus beraktifitas, bukankah jantung kita tidak pernah berhenti berdetak, ia terus memompa darah, sehingga dengannya darah kita terus bergerak mengaliri setiap lekuk jaringan sel tubuh kita, paru paru terus melakukan tugasnya bernafas, ginjal menyaring dan menetralkan racun racun yang ada dalam darah, bukankah nadi kita juga tetap berdenyut. Pertanyaan paling penting dari semua itu adalah : Bagaimana bila semua organ dalam tubuh kita ini berhenti bergerak ???, kematian yang akan terjadi. Berakhirlah hidup ini, si anak akan kehilangan ayahnya, istri akan menangisi suaminya,

Ibnu Umar pernah berkata : لا َ تُؤَخِّرْ عَمَلَ اْليَوْمِ إلَي اْلغَدِ

jangan menunggu hari esok apa apa yang bisa kau kerjakan hari ini !
Don’t till tomorrow what you can do tOday !

yah memang yang dinamakan hidup itu adalah sebuah pergerakan, tidak bergerak berarti tiadanya unsur kehidupan, jika unsur kehidupan lenyap maka yang ada hanya sebuah kematian. Namun, agar manusia hidup itu tidak melonjak menjadi makhluq yang sombong, di penghujung suroh al Insyiroh itu Allah mengajarkan : “ dan kepada Tuhanmu, maka berharaplah hanya kepada-Nya “, sehebat apapun usaha yang kita lakukan, secepat apapun langkah yang kita gerakkan, secanggih apapun alat yang kita gunakan, semua itu tidak pernah lepas dari ketentuan Sang Maha Penentu Pemilik kehidupan. Memang Usaha tanpa do’a hampa, kerja keras tanpa tawakkal sia sia, bergerak tanpa berpasrah diri kepada-Nya, BERSIAPLAH UNTUK KECEWA !

wallohu a'lam.

Kematangan Ruhani

Untuk mencapai kualitas kesempurnaan hidup dan Ibadah kita, minimal ada 3 kesadaran yang – mau tidak mau, suka atau terpaksa -- harus mampu kita munculkan didalam setiap langkah kehidupan kita. dan inilah indikator wujud kematangan ruhani seseorang :

1. Untuk mencapai kualitas ibadah yang lebih baik, hendaknya kita bisa memunculkan sebuah "kesadaran bahwa Allah dekat" dengan kehidupan kita, kesadaran bahwa Allah selalu memonitor setiap gerak kita, Allah pasti mendengar setiap ucapan kita, dan bahkan Allah Maha tahu akan segala sesuatu yang tersembunyi dalam benak dan bathin kita semua. Tidak ada sesuatu pun diatas dunia ini yang samar apalagi luput dari pantauan Allah ( QS. Ibrahim ; 38 )

Orang yang memiliki kesadaran ini, maka dampak dan imbasnya akan segera terasa, ketika shalat, maka shalat yang ia kerjakan pasti akan berkualitas, Nabi bersabda:


صَلِّ صَلاَةَ مُوَدِّعٍٍ فَإِنَّهُ إِنْ كُنْتَ َلا تَرَاهُ فَاِنَّهُ يَرَاكَ

“ shalatlah engkau dengan shalat perpisahan, ( apa itu shalat perpisahan ) yaitu sebuah kesadaran bahwa jika engkau tidak bisa melihat-Nya maka yakinlah Allah pasti melihatmu “
( HR. Thabrani dari Ibnu Umar ).

dengan kesadaran itulah maka ruku’nya menjadi tertib, sujudnya thuma’ninah, bacaannya tartiil, tahiyyatnya merasuk sukma, dan pada klimaksnya, orang yang seperti ini, hidupnya akan semakin tertata indah. Lebih jauh dari itu, orang yang memiliki kesadaran bahwa Allah dekat dalam hidupnya, maka hidupnya hari demi hari akan semakin berkualitas, muncullah sebuah kesadaran “Muroqobah“, semakin berhati hati dalam bersikap, semakin mawas diri dan memiliki kedisiplinan yang sangat tinggi, kenapa demikian, karena pengawasan yang dirasakan oleh orang seperti ini bersumber kepada Allah Dzat Yang Maha Menatap setiap kehidupan. Setiap kebaikan yang ia lakukan bukanlah karena ada sahabat yang melihat, bukan karena atasan yang menyaksikan, dan juga bukan karena ada orang yang memandang. Tapi sekali lagi, itu semua muncul karena ia sadar bahwa Allah selalu memantau setiap detak dan detik kehidupannya.


2. Hidup dan ibadah kita akan semakin berkualitas jika kita memiliki kesadaran bahwa "ibadah yang kita lakukan itu adalah kebutuhan ruhani" setiap kita. Kesadaran seperti ini akan menggiring kita untuk merasa butuh shalat seperti halnya kita butuh makanan, kita akan merasa butuh puasa seperti halnya kita butuh minuman, kita butuh zakat sama seperti halnya jasmani kita butuh refreshing (penyegaran), dan memang untuk tujuan itulah Allah hadhirkan Agama bagi manusia. Paket Rukun Islam yang kita jalankan, Shalat, puasa, hajji, zakat dan perbuatan perbuatan baik lainnya, hakikatnya adalah merupakan santapan bagi ruhani, makanan bagi jiwa kita, penyegar dahaga bathin, jadi jika demikian adanya, maka semakin sering kita berbuat baik, semakin sering kita shalat, semakin sering kita berpuasa, semakin sering kita beribadah dalam manifestasii yang seluas luasnya, maka secara otomatis akan semakin sehatlah ruhani kita, semakin subur pulalah tanaman Iman kita. Saudaraku sekalian, disamping itu, dalam sebuah ayat Allah telah mengingatkan kepada kita :

“ Barangsiapa berbuat kebaikan maka ( dampak kebaikan itu ) kembali kepada dirinya, dan barangsiapa berbuat kejahatan maka efek kejahatan itupun akan berimbas atas dirinya “ ( QS. al- Jaatsiyah ; 15 )

Mari kita lihat kebenaran wahyu Allah ini, bukankah ada kebahagiaan bathin yang tak terlukiskan dengan kata kata ketika kita bisa membuat orang lain bahagia, sebaliknya, bukankah ketika kita berbuat keburukan seperti meninggalkan shalat misalnya hati kita menjadi gelisah, jiwa kita bertambah resah, bukankah kalau kita kikir dan bakhil, enggan dan segan mengeluarkan zakat, maka tidak cuma Allah yang akan menjauhi kita tapi semua orang akan ikut membenci kita, siapa yang mau membantu orang kikir yang sedang tertimpa kesulitan ,,,?. Kesadaran seperti inilah yang harus segera kita bangun, guna tercapainya peningkatan kwalitas amal Ibadah.

3. kualitas hidup kita akan semakin meningkat jika kita memiliki "kesadaran ada akhirat" setelah dunia. Hadirin sekalian, manusia yang visi dan orientasinya jauuh kedepan, yang menyadari bahwa setelah kita mati nanti akan ada hari perhitungan, akan ada hari penghisaban, maka dalam menghadapi hidup yang penuh dengan goncangan ini, mereka pasti akan lebih tegar dan tetap stabil ( tetap konsisten dengan prinsip hidupnya ), ketika ia sukses dalam semua urusan dan –katakanlah– ia menjadi orang kaya, ia pasti tidak akan lupa diri dan lupa daratan, ia akan sadar bahwa harta itu cuma titipan, ia juga sadar bahwa hidup yang sebenarnya bukan disini, bukanlah didunia ini tapi di akhirat nanti, bahkan saya percaya, orang yang meyakini akan kehidupan sesudah mati, ketika ia kaya maka akan ia gunakan kekayaannya itu, akan ia manfaatkan kesuksesannya itu untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan yang lebih sejati, di Negeri keabadian nanti. Namun sebaliknya, jika ia gagal dalam hidup ini, maka orang seperti ini tidak akan mudah kecewa, tidak akan gampang frustasi apalagi sampai bunuh diri, kenapa demikian, karena ia masih punya harapan, bahwa masih ada kebahagiaan pada episode kehidupan berikutnya, kalau sekarang saya gagal dalam kehidupan dunia ini, kenapa harus resah, bukankah masih ada surga dan para bidadari yang sudah menanti. Allahu Akbar.

renungan buat kita sekarang adalah, kenapa kita korbankan kepentingan jangka panjang hanya untuk kesenangan jangka pendek, mengapa kita musnahkan kebahagiaan abadi hanya untuk kesenangan sesaat di dunia ini, ingatlah bahwa Allah telah berfirman :

“ Ketahuilah oleh kalian !, bahwasanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, tipudaya, perhiasan dan berbangga bangga diantara kalian,,, “ (al- Hadid : 20).

Saudaraku, genggam dunia dan gapailah cita...! namun ingatlah ! GAPAI semua itu dengan tanpa mengorbankan kehidupan akhiratmu. wallohu a'lam. Semoga bermanfa'at.

Muslim Terbaik

- عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ : أَيُّ اْلاِسْلاَمُ خَيْرٌ ؟ قَالَ : تُطْعِمُ الطَعَامَ وَتَقْرَؤُ السَلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Dari Abdullah ibn 'Amr berkata ada seseorang yang bertanya kepada Rasul : "apakah Islam yang terbaik itu ? " Rasul menjawab : " memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang anda kenal atau yang tidak " ( HR. Muslim )

- Salam bukan hanya sekedar ucapan tapi yang dimaksud adalah tebarkan Kedamaian dimana saja kalian berada.

- عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ عَمْرٍو ابن العاص أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ : أَيُّ اْلاِسْلاَمُ خَيْرٌ ؟ قَالَ : مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Dari Abdullah ibn 'Amr berkata ada seseorang yang bertanya kepada Rasul : "siapakah Muslim yang terbaik itu ?" Rasul berkata : " orang yang menjaga orang lain dari bahaya lidah dan sikapnya" ( HR. Muslim )

- لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ اَوْ قَالَ لِحَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Anas ra. Katanya Rasul telah bersabda : "belum sempurna iman seseorang sehingga mencintai saudara (tetangganya) seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri " ( HR. Muslim )

- Dari Anas ra. Katanya Rasul telah bersabda : "belum sempurna iman seseorang sehingga ia mencintaiku melebihi cintanya pada anaknya, orangtua dan manusia lainnya"( HR. Muslim )
- Dari Abu Hurairah ia berkata bahwa Nabi telah bersabda : "kamu tidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan kamu belum dikatakan mukmin sebelum kamu saling mengasihi satu sama lain. Sukakah kamu aku beritahukan cara untuk saling mengasihi? Sebarkan salam diantara sesamamu " ( HR. Muslim )
- Nabi bersabda : " sebaik baik iman seorang Mukmin adalah yang paling baik akhlaqnya "
- Nabi bersabda : " sebaik baik iman seorang mukmin adalah yang paling baik terhadap keluarganya "

- Dari beberapa hadits diatas dapat dilihat ternyata keberislaman dan keberimanan seseorang itu diukur dari keperdulian terhadap sesamanya dan dari kualitas hablun minannaas.

Wallohu a'lam bis-showaab...

Musibah

Musibah adalah suatu kehendak Allah SWT yang ditimpakan kepada siapapun tanpa pandang bulu, tanpa memandang waktu, tempat dan situasi.
Jadi musibah itu akan digulirkan dan digilirkan Allah SWT kepada setiap makhlukNya di alam semesta ini.
Nach sekarang hanya bagaimana sikap kita dalam menerima musibah yang ditimpakan kepada kita.

Allah SWT memberikan petunjukNya kepada kita untuk menghadapi hal yang tidak kita inginkan ini melalui firmanNya dalam Al-Qur’an: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". (QS. 2:155-156). Jadi nyatalah bagi kita bahwa kunci dalam menghadapi musibah itu adalah sabar, dan penanamkan pengertian bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Allah SWT apakah itu nikmat maupun musibah yang keduanya juga digulirkan dan digilirkan Allah swt kepada hambanya. Didalam kehidupan ini tidak ada yang nikmat terus menerus dan juga tidak ada yang musibah yang tiada henti, hanya tinggal menunggu giliran dan waktunya saja.

Dari ayat diatas juga jelas sekali bahwa Islam tidak mengajarkan ummatnya untuk mempunyai rasa memiliki (sense of belonging) terhadap yang sekarang secara lahiriah dimilikinya.
Tetapi hanya disebut sebagai suatu kepercayaan dari Allah swt atau rasa untuk dititipkan atau diamanahkan (sense to be entrusted) karena segala sesuatu itu hanya datang dari Allah swt.

Dan jika Allah swt berkehendak untuk mengambilnya kembali darinya maka seharusnya tidak ada yang dirasa hilang karena kita berangkat dari ketiadaan.

Orang mukmin juga memandang suatu musibah yang ditimpakan terhadap dirinya adalah suatu ujian atau cobaan terhadap keimanannya untuk menuju maqam yang lebih tinggi.
Laksana seorang yang sedang menuntut ilmu yang pada tahap-tahap tertentu harus diuji keahliannya terhadap yang sudah diterimanya.

Firman Allah SWT: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:"Bilakah datangnya pertolongan Allah". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. 2:214).

Dan ada lagi bentuk musibah yang dapat kita terjemahkan sebagai peringatan bagi kita untuk mengingatkan kita untuk kembali kejalan Allah.

Allah SWT menyatakannya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. 42:30).

Lain halnya dengan orang kafir dan fasik, musibah itu adalah merupakan adzab dan siksaan bagi perbuatan mereka yang durhaka terhadap Allah. “…..maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka.

Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. 5:49)
Semoga kita diberi bekal kesabaran oleh Allah swt ketika menerima cobaan atau musibah yang insya Allah akan lebih memantapkan maqam kita ditempat yang lebih tinggi dimata Allah SWT.

Wallahu'alam

Monday, June 29, 2009

Sandaran Hati

Yaaa..Yang Maha Lembut… dan Yang Maha Kasih……….
Kelembutan dan kasih sayang-MU sangat kurasakan...
Terasa gelora rasa cinta ini menyesakkan dada...
Memenuhi kerongkonganku… ..
Memenuhi syarafku…………………………………
Memenuhi kelopak mataku dengan kebeningan air mata………….
Saat teringatku pada SANDARAN HATI yang selalu menyejukkan………….
Selalu menentramkan hati Yang Maha Sempurna
Ingin kukorbankan seluruh hidupku untuk-NYA….
Betapa bahagia pabila kudapat melihat DIA tersenyum..,
Tapi bagaimana agar kudapat tahu DIA tersenyum…
Aku hanya bisa berbuat sesuatu agar DIA tersenyum padaku…

Oh…maafkan aku…SANDARAN HATI-ku…
Mungkin aku belumlah dapat memenuhi syarat agar ENGKAU tersenyum padaku
Aku belum sepenuhnya mengetahui ilmu tentang-MU….tentang Keagungan-MU…
Tentang Kebesaran-MU…semua tentang-MU…
Aku ingin mencari dan terus mencari dan mencari… sampai kapanpun…
Bahkan mungkin sampai akhir hayatku…
Sampai ENGKAU panggil aku…
Semoga pada saat ENGKAU panggil aku…
Ilmuku tentang-MU sudah dapat membuat-MU Tersenyum…mungkinkah….

Ya RAHMAN …Ya RAHIM…ampunkan hamba ini
Yang hanya dapat bergantung pada-MU…
Karena ENGKAUlah SANDARAN HATIku… tiada yang lain..
ENGKAU tempatku meminta dan memohon pertolongan…
ENGKAU tempatku mengadu…
Tapi ku selalu serahkan persoalanku pada-MU…
Karena ENGKAU yang tak pernah membuatku kecewa….
Karena ENGKAU yang selalu mengerti aku….
ENGKAU tempatku mohon ampunan atas dosaku…
Karena hanya ENGKAUlah yang dapat meng-ampuni setiap dosaku….
Tak dapat kubayangkan hidupku tanpa-MU…tanpa bimbingan-MU…
Genggamlah aku selalu…dan jangan pernah lepaskan aku….
Jangan pernah ENGKAU pergi dari hatiku….
Karena pastilah ku jadi orang yang sia-sia….
Tanpa ENGKAU di hati….